<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436</id><updated>2011-04-21T16:19:57.285-07:00</updated><title type='text'>*** Eva Kasim ***       Pusat Riset dan Informasi tentang Masalah Penyandang Cacat</title><subtitle type='html'>Suatu kumpulan informasi yang berhubungan
dengan masalah
penyandang cacat yang diambil dari artikel yang pernah
ditulis/di
publikasikan oleh Eva Kasim, sejak periode 1994 s/d
sekarang.
Diperkenankan untuk mengutip isi artikel dengan
pemberitahuan lebih
dahulu atau menyebutkan sumber ini. 
Untuk keterangan lebih lanjut hubungi :
evakasim@yahoo.com
</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-117588029898715559</id><published>2007-04-06T10:21:00.000-07:00</published><updated>2007-04-06T10:24:59.923-07:00</updated><title type='text'>KONVENSI HAK –HAK  PENYANDANG CACAT</title><content type='html'>Pada tanggal 30 Maret 2007 lalu lebih dari 80 negara,  termasuk Indonesia yang diwakili oleh Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah. menandatanganani Konvensi tentang Perlindungan dan Pemajuan Hak serta Martabat Penyandang Cacat  (Convention on the Protection and Promotion of the Rights and Dignity of Persons with Disabilities). Konvensi ini telah disetujui Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam sidang  ke-61 , tanggal 13 Desember lalu . Peristiwa tersebut menjadi momentum penting terhadap pengakuan hak penyandang cacat untuk hidup setara dengan warga masyarakat laiinnya dan kewajiban Negara Pihak untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini nampak pada prinsip-prinsip yang termuat dalam konvensi, yaitu  menghormati harkat dan martabat Penyandang Cacat, non-diskriminatif, partisipasi penuh, aksedibilitas, penghormatan  terhadap perbedaan dan penerimaan Penyandang Cacat sebagai bagian dari keanekaragaman manusia dan kemanusiaan. Sesungguhnya tidak ada hak-hak baru bagi penyandang cacat yang termuat di dalamnya; juga tidak ada sesuatu hak yang warga masyarakat lainnya tidak miliki sebelumnya. Konvensi ini lebih menekankan bahwa penyandang cacat harus diberi kesempatan yang sama dan dijamin hak-haknya sebagaimana warga masyarakat lainnya. Konvesi ini sekaligus merupakan refleksi perubahan paradigma dalam penanganan masalah penyandang cacat dari yang bersifat remedial dan belas kasihan pada pendekatan hak asasi manusia.. &lt;br /&gt;Jutaan penyandang cacat dunia  berharap konvesi tersebut dapat membawa perubahan pada terciptanya masyarakat yang tidak diskriminasi dalam hal pendidikan, pekerjaan, dan bidang kehidupan lainnya, termasuk informasi dan lingkungan fisik yang bebas hambatan bagi semua; kesamaan untuk mendapatkan jaminan di muka hukum dan inklusif secara penuh dalam masyarakat  dengan tanpa membedakan  usia,  jenis kelamin,  lokasi tempat tinggal dan jenis kecacatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keikutsertaan Pemerintah Indonesia dalam penandatangan konvensi tersebut tentunya bukan sekedar basa basi pergaulan masyarakat internasional, karena selain membawa konsekuensi tindak lanjut (pemantauan oleh dunia internasional), negara ini juga berkepentingan untuk mengimplementasikannya sebagaii  negara yang mempunyai prevalansi  disabilitas (angka kecacatan) yang cukup tinggi – mencapai 39 per sen dari jumlah penduduk  - menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga Departemen Kesehatan tahun 2001. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk mengimplementasikan Konvensi Hak Penyandang Cacat ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, Pertama ,yaitu tumbuhanya kesadaran  masyarakat terhadap pendekatan hak asasi dalam penanganan kecacatan. Hal ini berarti harus ada edukasi pada masyarakat dalam segala tingkatan bahwa hak-hak yang mereka miliki sebagai warga masyarakat juga seharusnya dinikmati oleh penyandang cacat. Pemahaman  kecacatan  bukan cuma  masalah medis atau rehabilitasi untuk memulihkan kondisi kerusakan  organ atau fungsi anatomi seseorang. Kondisi kecacatan juga bukan sesuatu yang menjadi objek belas kasihan atau sesuatu yang harus disembunyiikan dan dikucilkan.  Kecacatan harus dipahami sebagai situasi  yang kompleks yang terjadi akibat interaksi  antara kerusakan / kelainan anatomi seseorang, dengan sikap masyarakat, serta adanya rintangan/hambatan dari  lingkungan fisik yang tidak akomodatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, perlu adanya reformasi dibidang hukum dan perundang-undangan.. Segala peraturan , kebijakan atau  tindakan yang bersifat diskriminasi terhadap penyandang cacat harus ditinjau ulang dan dilakukan perbaikan serta sanksi terhadap pelanggarnya.. Misalnya, ketentuan persyaratan sehat jasmani dan rohani dalam melamar pekerjaan , begitu juga persyaratan  untuk dipilih dalam Pemilihan Umum. Ketentuan sehat jasmani dan rohani sering diartikan sebagai kondisi tidak cacat. Begitu pula dalam hal penggunaan transportasi dan fasilitas umum,.Lihat saja, hampir sepanjang tahun, trotoar di DKI Jakarta dan kota besar lainya dibongkar pasang, namun tak pernah memperhatikan  aspek aksessibilitas fisik dan lingkungan yang dibutuhkan kalangan penyandang cacat. padahal sejak tahun 1981 Pemda DKI telah mengeluarkan aturan aksesibilitas bagi penyandang cacat pada fasilitas umum dan bangunan. Dan diperkuat lagi dengan Undang-undang Bangunan Tahun 2002 serta Kepmen PU Nomor 468 tahun 1999  tentang persyaratan teknis bangunan dan lingkungan.&lt;br /&gt;Ketiga, pemerintah dalam setiap tingkat perlu mengimplementasikan administrasi penanganan kecacatan yang bersifat integratif termasuk  pembiayaannya.  Mengingat hak-hak penyandang cacat  bersifat asasi, maka hak-hak tersebut  seharusnya terdistribusikan secara luas, yang berarti juga perlu pelembagaan pengakuan hak-hak orang dengan disabilitas pada  setiap sektor dan level pemerintahan.  Anggapan bahwasanya mereka adalah tanggung jawab Departemen Sosial an sich!,   sudah waktunya diubah. Permasalahan penyandang cacat  tidak cukup diatasi hanya oleh Departemen Sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, saatnya pemerintah melaksanakan kebijakan pengarusutamaan masalah kecacatan, misalnya dengan sistem pembiayaan pembangunan  yang peka terhadap isu disabilitas (disability budgeting)  Artinya, setiap sektor dan setiap level pemerintahan , memasukan orang dengan disabilitas sebagai sasaran  pelayanannya termasuk menganggarkan pembiayaan untuk keperluan tersebut.. Misalnya, Program Penanggulangan Kemiskinan, juga diperuntukan bagi orang dengan disabilitas; begitu juga dalam program kesehatan seperti kesehatan reproduksi, juga ditargetkan bagi orang dengan disabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Hal lain yang perlu menjadi perhatian dalam  implementasi Konvensi Hak Penyandang Cacat adalah bagaimana hak-hak tersebut ditransformasikan dalam  praktek-praktek budaya lokal. Tidak dipungkiri bahwa praktek budaya lokal terhadap orang dengan disabilitas sudah  melembaga  dari generasi ke generasi dan bervariasi antara satu budaya dengan lainnya. Agar praktek budaya lokal dapat mendukung implementasi Konvensi tersebut, perlu dikomunikasikan dengan melibatkan media massa , termasuk kepada pemuka adat dan agama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-117588029898715559?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/117588029898715559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=117588029898715559' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/117588029898715559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/117588029898715559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2007/04/konvensi-hak-hak-penyandang-cacat.html' title='KONVENSI HAK –HAK  PENYANDANG CACAT'/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-110664522884663801</id><published>2005-01-25T01:24:00.000-08:00</published><updated>2005-01-25T01:27:08.846-08:00</updated><title type='text'>SOCIAL AND ECONOMIC IMPACTS ON REPRODUCTIVE HEALTH  WOMEN WITH PARAPLEGIA  A CASE STUDY OF INDONESIAN WOMEN WITH PARAPLEGIC  </title><content type='html'>Introduction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Health is human right however poor people may not live healthy. Socio-economic deprivation has been highly correlated with poor health, and is primarily responsible for inequalities in health amongst the social strata (Chermack:90). Concern to health problems and poverty, international communities at the Millennium Summit of United Nation in year 2000 adopted The Millennium Development Goals (The MDGs) which  calls for a dramatic reduction in poverty and improvements in the health of the poor.  Indonesia  is one of developing countries which  has about  33.1 million of total population live under poverty.  Included part of this group are poor people, women and individuals with disabilities. For maintain and improve quality of life its people Indonesian government provided health services (Law No. 6/1974; Law No. 23 /1992; Law No. 4/1997). Further more , since 1999 its country set up  health targets which called “ Health for Indonesia by the year 2010” that  focused on 4 mission : a. activation of health oriented national development, b. increase and maintain individual family, community and environmental health, c. increase and maintain health services, d. support people to stay health based on their own effort (The Ministry of Health Republic Indonesia : 2000). &lt;br /&gt;A research reported across the world, persons with disabilities are among the most under serviced people, in term of medical care and other services (Frye: 1993).  Whereas individuals with disability are at above average chronic diseases (Nosek: 2000). It may because impairments and functional limitation present symptoms differently from persons without disability (Thomas:1999). ). Furthermore identified some health problems which common face women disabilities such as chronic urinary tract infection (UTI), depression, osteoporosis, restrictive lung disease, inflammatory bowel disease, heart disease, seizure disease and kidney disease ( CROWD: 1999).  Indeed , health problems of women with disabilities may be complicated by  gender. (Traustadottir : 1990) cited Menzt. et.al   suggest  stereotypes ascribed to people with disabilities and women, in general, condones passivity, dependence, helplessness and failure that these seem to be shared by general public and physicians, the result being that women with  disabilities are less likely to be paid attention.  Some evidences within literatures on health issues and concerns  of women with disabilities may suggest this.  (Morrow: 2000; Chappell :1996; Masuda: 1999; Fry  :1993; Fawcett : 2000). However these reports mostly from western  countries. Information about health  of women with disabilities within  developing countries limited , for example.  (Ghosh: 2004; UN-ESCAP: 2002) and its information not in details so needed further  research for understanding  health problems related women with disabilities within different societies.&lt;br /&gt;Therefore this study conducted to gather information life experiences  and  needs of women with disabilities  related health in a developing country , in particular within Indonesian context.. The rationale behind this study is that though no comprehensive data available about women disabilities in this country that it would be expect the number of its  population significantly high.  National Board on Statistic reports (BPS : 2003) that more than 55 per cent of Indonesian population are women. Then, according to Department Social Affairs (2002) there was 45 person with disabilities in each 1000 population. Furthermore,  a report stated number prevalence of injured  among women higher than men .This repot also mentioned  that prevalence transmitted diseases, maternal, prenatal and malnutrition among women higher compare to men. Further, the same report  identified   prevalence non communicable diseases on women higher than men at range age group  of 15 to 44 year old (Budijanto et al. : 2000).  In addition to these, another  report suggest that Indonesian women more likely high mortality incidence caused of  diseases related to women such as breast cancer, cervical  cancer and postnatal (www.SinarHarapan.com). Given these evidences ones may imagine when such problems happened on women with disabilities  that those may  have had health complication caused of their disability conditions. Furthermore , The International Classification of Functioning Disability and Health (WHO: 2001) that suggest disability encompassed not only the physical or mental conditions that affect the body  / mind but the ways in which environment create obstacles or barriers to those individuals with such conditions. It is imperative to describe how people live with their health conditions and to consider the intersections between health, body functions, activities and participation from a body, and the individual and social level These suggest that concerned of health  Indonesian women need to pay attention seriously, including those are women with disabilities. &lt;br /&gt;In order to gather information of needs women with disabilities this study conducted that chosen Indonesian paraplegic women.  Choice its group as they may have “unique” problems of health and  conditions both as female and with disabilities, especially related to their reproductive health.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Method and Participants&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The study employed a qualitative research and collected data  trough study literature, a group discussion of paraplegic women who are living at residential services, in depth interviews with them and those are living with family,  and direct observation to women with paraplegic, their family members and services providers.  Initially focus group was held and then in-depth interview’s which according to Grbich (1999) as the most appropriate technique to gain information on the perspectives, understandings and meanings constructed by people regarding the events and experiences of their lives. Semi-structured interviews and thematic categorization data provided to ensure all topics were covered  (Patton:1987), and it allowed the participants to develop a topic, to identify the issues, and  to give an indication of the language used in their setting (Kidder &amp; Judd : 1986).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Participants of research  were purpose selected consist of  4 women  paraplegics those living at institutional rehabilitation and 3 women living with family. Their length of time had paralyzed  more  than 2 years. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Results&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;General Characteristics of  women with disabilities in this study had paraplegia caused of  motor accident,  (4) workplace accident (1) , home accident (1) and unknown disease (1). Their range age  between at 18 to  50 years old. Level education from secondary school to College/ university (4  at level junior high school, 2 at level secondary school and rest at level college /university).  Status occupation : 1 government official , 4 unemployed , 2 self-employed).  With regards marital status : 1 married , 1 divorced and 5 single. Live length had paraplegia range at 3 up  37 years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The findings could be summarized into 4 themes . These themes were : a). Self expressed of conditions b). Health status; c). Health information and accessibility d).  Social belief and religion  matters; e). financial supports.&lt;br /&gt;Self expressed of  conditions&lt;br /&gt;There were variety expressed of women with paraplegic in this study of their conditions, mostly tends to be submissive to their destiny. Take for example  these testimonies:&lt;br /&gt;•	I am like just other women, what different is that I user wheel chair&lt;br /&gt;•	It is something that had to be, I have to accept it&lt;br /&gt;•	Life must go on&lt;br /&gt;•	I am sad, upset and angry, but do not know to whom I angry with.&lt;br /&gt;•	Just let it flow.&lt;br /&gt;•	 Paraplegia….It had never come to my mind before but it happened to me, The God may have others plans to me….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Health status&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When asked to express their health conditions, the majority answers is that “Just so so”.  This kind of answer need further to be interpreted with other conditions.  This contrast to others answered. For example group discussion identified some health problems they had, such as urinary , muscle spasm , swollen of legs, fever and skin problems around vagina. This group also mentioned catheters  and diapers to control  bladder.  The oldest woman told she had many surgery treatments caused of stones within kidney and skin irritations during her live long paraplegic. A young woman told had  a surgery for breast cancer. Almost all participants take medicines for relief pain and fever. Among participants only 2 of them mentioned take regularly medical examination, in particular  for urinary tests. 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In regards to reproductive health some questions  be asked, namely, menstruation, child bear,  sexual functioning,  parenting, contraception, menopause and cancer related women. However not  all these issues has been responded by the participants. There was  a bite difficult  to get information about these issues but then within group discussion  it can disclosure a few things of these.  All women  told that the period of menstruation is trouble time for them to manage its hygiene, smell and leakage as it complicated with urinary problems. Some women told during the menstruation time more often arise spasticity and cramping. The oldest woman in this study had menopause a few years ago. Another married woman told that she  under her husband permitted took sterilization . Most participants told that birth control is importance. for women with paraplegic however, unnecessary for sterilization, except when have children. Regarding child bearing, all participants said women paraplegic be able bear children. Married woman did not want to talk about her sexual activities, either single women in this study not gave their view about this issue. It can be understood within Indonesian culture sexual activities only for those married, even for married persons   uncommon talk it opened.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Health Information and accessibility&lt;br /&gt;Information related health preventive and treatment is very importance for those live long time with impairment  such as paraplegics women. But, almost all participants  felt that information for health care was lacking, particularly about reproductive health matters. “Gynecologist / obstetricians have not offered information about typically health reproductive. “, said a woman. Most participants released that before back home after injured  they  got some information for bladder  and bowel  management and some kind self  physical exercises but not for reproductive health issues. For example a old woman who are menopause expressed she had depressed because of continue bleeding for long periode. She did not know before whether this is common on menopause women or not  up seen a gynecologist. When be asked about risk of doing sex activities or pregnancy for women with paraplegic, only one of them have knowledge about that while others not know.  This women said she know about that by read books and asked to doctors where she work (She is working at  a hospital  and used to be a nurse ). The participants were asked about importance for medical examinations, only two participants conducted its regularly. While others told as long as  they did not complaint of their health condition they would not go to see doctor.   The discussion group told if they have complaints of health they will ask firstly to friends  those are paraplegic or family members. It suggest answered by a gynecologist who stated have no patients paraplegia to see him. While another physician told he would  not gave information for health preventive and care, especially on reproductive health to women paraplegic or their partner if the clients not asked to him. Lacking information about taking health care of  their  reproductive functions some women felt fear to get married,  it can be identified by a statement   “despite I know I will be able to have a child but I am afraid if I had children with disability too”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beside lack of information, group discussion and other participants identified problems in gaining access to health services.  “It was very terrible for me to get into table medical exam”, said the old women about her experiences saw the gynecologist  at the time she had bleeding  of her post- menopause.  Another complaints no public transport available for wheel chair users. “Every times go to some where, we have to use taxi or car rental”. Two women told that she prefer for not go many where if not very important because of  it will be terrible to find accessible toilets.   A parent who sent his daughter to the institution gave reason that his house design and building were  not accessible for her daughter who user  wheel chair.   In terms of accessibility, participants were not only indicate about, transportation,  design of medical equipment  and building and physical environment, but also  the bureaucracy surrounding the accession of  a “ health card” that entitling poor people to use of government hospital, in particular primary health care provider. “ I  wanted  the card. Everyone’s pulling out forms,… about this many!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Social practices and cultural issues&lt;br /&gt;Participants were asked to respond items regarding social practices or cultural. Most women think that rehabilitation center were the best place for them for live. Some family members of participants also stated same answer for the same question. Take one for example, “ everything will be easy for my daughter  and for us if she stayed at Panti “ (institution for persons with disabilities). When asked about their satisfaction of services mostly answered satisfied. Within Indonesian cultural, women will be respected when she married and have children. Majority participants considered that women with paraplegic should be able to marry and have children, but when be asked to them about acceptance of men (men without disability) to have wife with disabilities, their answer doubtful. “As a women we just accept”, said some women.  A woman told that she has boy friend, her boy friend just know that she user wheel chair and not about urinary problems. She never talked about this problem because of she  afraid her boy friend will leave her. The divorced women within discussion group suggest that her husband left after she got paralysed.  Another family member of participant told  that men usually seeking  wife who can serve him all in, it meant that women paraplegic not into account.  With regards economic income,  participants believed that family members (parents) responsible to handle their expenditures as they are unemployed.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Financial supports  &lt;br /&gt;Cost for health care and treatment is the most complaint of participants both those are living at residential services and with family. “Every things is money”, said one participant. They indicated many kind expenditures , such as bill for doctors, medicines, medical treatments like physiotherapy , medical examinations and laboratorium. Beside that they also expended money for transportation  and devices for activity daily living, include for catheter or diapers. “Although I have job and salary I could not afford to pay all these thing”, said a woman.  A young woman told although she covered by health insurance of her parent it just for little things not all. “The coverage of this health insurance just for a while, at the time I am 21 I would be any longer coverage by ASKES  ( a kind health insurance for government official and family members). The group discussion who living at government’s residential services told that they received assistance from foreign donators for catheter and diapers. However, these kind of assistance depend on available donors as this statement.  “Some times the donor come here and gave us job (handicraft works like making  greeting cards)”. Costs problem be more difficult as most of them unemployed. Mostly they received money from family (parents) and one stated some times received money from her daughter. For those participants living at  a government residential services  ,  although some of them  eligible for health subsides but its covered  very limited amount.  “Costly is one of the reason why I  did not take regularly to see the doctor”,  said a woman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Discussion&lt;br /&gt;Based on results  present of this study reinforces the importance to understanding health problems of women with disability, particularly those paraplegics within  a frame work socio and economics  aspects , rather than restricted  medical approach.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The significant findings of this study is the main expressed of women paraplegic  which stated the submissive personality  of  their  condition. With regards of  their health conditions they  see  its as just so so, while in reality they appeared to the researcher to be abysmal.  Some health  problems in fact happened to them the ranged from fever, muscle spasm, urinary dysfunction, stones within kidney, skin break down , even cancer. This needed interpreted in term of  service provision. It is possible these  expression were reflection of a characteristics  of the Indonesian personality who simply “accepts” without complaint (Lysak &amp; Krefting: 1994).  Beside that were no complaints of their health conditions by a statement “just so so”, it may reflection of  a justified health problems to  their life  condition in order to  make these problems  become as “naturally”. In processing to make adjustment of these health condition into their live, ones may unaware that by time gone their impairment and disability can be worse. This situation could be seen on the case of the old women in this study who not only  had urinary problems but stones within kidney, and took many times skin surgery on her back. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Results from this study found that women with paraplegic were lacking get information about health care, in particularly with regards their reproductive health and also inferior to get  health services. It can be argue if women paraplegic and partner or family members did not have appropriate information about health care and accessing health services , this not only create new health problems of women paraplegic and make existing problems become worse but also in terms of acceptance this kind group women within  society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This study also found that mostly women with paraplegic obtained their main form income from family member. This is not surprising as most of them unemployed.  This situation may typically within developing countries. Vitachi (1995) mentions that Asian people believe more strength  in the family to provide welfare for people with special needs.  However, in this study though family members gave financial support to their member with disability its could not covered many things of their expensive. For those living at institution some times they  have jobs related  handicraft, but this job temporary.  This is a clear indication that to maintain health care and improve quality of life women with paraplegic the economics aspect need to be considered.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Results finding of this study identified that gender issues, especially related reproductive health care were not considered into rehabilitation setting. Physician  and professional worker in health and social services being  focused on their own discipline.  For example, there were no programs available or information on women’s health in resident services. While in other side the physician been educated  and focused on the disease, so disability aspects not encountered. This evidence can be seen by the statement of a  women in this study who felt terrible get onto table for medical test of her reproductive function organs.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because of this study had a very limited sample, findings this study on health situation of Indonesian woman with paraplegic may not be able to generalized. Women with paraplegic who participated in this study limited those live in Jakarta. Jakarta is the capital city of Indonesia which its city may offered many health care facilities. For those women paraplegic living out side Jakarta or rural areas the situation may have more complicated.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* The author is an activist disability movement and also  an official government  for The Ministry of Social Affairs Republic Indonesia.  (evakasim@yahoo.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : Eva Rahmi Kasim*&lt;br /&gt;(Paper Presentation for 8th Annual Meeting of Globalforum for Health Research, November 2004, Mexico City, Mexico&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-110664522884663801?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/110664522884663801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=110664522884663801' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110664522884663801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110664522884663801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2005/01/social-and-economic-impacts-on.html' title='SOCIAL AND ECONOMIC IMPACTS ON REPRODUCTIVE HEALTH  WOMEN WITH PARAPLEGIA  A CASE STUDY OF INDONESIAN WOMEN WITH PARAPLEGIC  '/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-110606023656511711</id><published>2005-01-18T06:55:00.000-08:00</published><updated>2005-01-18T06:57:16.566-08:00</updated><title type='text'>TINJAUAN TERHADAP KEBIJAKAN  INTEGRASI SOSIAL PENYANDANG CACAT   KE DALAM MAINSTREAM MASYARAKAT  </title><content type='html'>Peningkatan integrasi sosial kelompok masyarakat marginal ke dalam masintream masyarakat merupakan salah satu komitment masyarakat dunia dalam penyelenggaraan pelayanan  sosial, seperti yang dinyatakan dalam KTT Pembangunan Sosial di Kopenhagen dan KTT Pembangunan Sosial di Jenewa beberapa waktu lalu. Hal ini juga menjadi komitment dalam penyelenggaraan pelayanan sosial penyandang cacat, seperti yang tersirat dalam jargon “Persamaan kesempatan dan partisipasi penuh penyandang cacat dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan” yang menjadi landasan Program Dunia mengenai Penyandang Cacat ( World Program Concerning Disabled Prsons) tahun 1982. Akan tetapi sasaran yang ingin dicapai sejak lebih dari dua  dasawarsa lalu itu, hingga kini belum banyak mencapai kemajuan, meskipun berbagai upaya sedang dan sudah dilakukan dalam mengatasi permasalahan penyandang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui makalah ini saya mencoba untuk turut berbagi pendapat dengan melihat permasalahan penyandang cact dari aspek kebijakan yang dilakukan selama ini. Menurut saya, aspek kebijakan merupakan hal yang mendasar dalam upaya menangani permasalahan penyandang cacat, karena ada 3 hal penting yang terkandung dalam setiap kebijakan. Pertama, kebijakan memberi arti (meaning) tentang apa yang menjadi permasalahan melalui definisi permasalahan itu sendiri. Kedua, Kebijakan memberi arah serta tujuan dalam mengatasi permasalahan yang didefinisikan. Ketiga, kebijakan juga berimplikasi pada pengalokasian sumber-sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kebijakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalah ini, saya membatasi pembahasan pada 2hal yang umumnya selalu menjadi wacana dalam setiap diskusi mengenai kebijakan, yaitu definisi atau pemberian arti (meaning) terhadap permasalahan dan model yang digunakan untuk mengatasi permasalahan penyandang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi Penyandang Cacat&lt;br /&gt;Definisi atau pengertian terhadap permasalahan penyandang cacat, dapat dilihat dari konteks penggunaan  berbahasa dan konsep yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU No. 4/1997 tentang Penyandang Cacat, Psl. 1 menyebutkan bahwa penyandang cacat adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan  hambatan baginya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya, yang terdiri dari : penyandang cacat fisik, penyandang cacat mental , serta penyandang  cacat fisik dan mental (ganda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) memberikan definisi kecacatan ke dalam 3 kategori, yaitu: impairment, disability dan handicap . Impairment disebutkan sebagai kondisi  ketidaknormalan atau hilangnya struktur atau fungsi psikologis, atau anatomis. Sedangkan Disability adalah ketidakmampuan atau keterbatasan sebagai akibat adanya impairment untuk melakukan aktivitas dengan cara yang dianggap normal bagi manusia. Adapun handicap, merupakan keadaan yang merugikan bagi seseorang akibat adanya imparment, disability, yang mencegahnya dari pemenuhan peranan yang  normal (dalam konteks usia, jenis kelamin, serta faktor budaya) bagi orang  yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian penyandang cacat dalam UU No. 4/1997 merupakan pengalih bahasa Inggris yaitu disabled person ke dalam bahasa Indonesia , menjadi penyandang cacat. Dalam konteks berbahasa, pengalihan kata disabled  menjadi kata cacat telah menempatkan orang yang mengalami kelainan fungsi atau kerusakan struktur anatomis yang mempengaruhinya melakukan aktivitas, pada posisi yang  dirugikan.  Seperti diketahui, bahasa menentukan pikiran dan tindakan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata cacat dapat diartikan dalam berbagai makna, seperti: 1) kekurangan yang menyebabkan mutunya kurang baik atau kurang sempurna (yang terdapatpada badan, benda, batin atau  ahlak). 2). Lecet (kerusakan, noda) yang menyebabkan keadaannya menjadi kurang baik (kurang sempurna); 3). Cela atau aib; 4 ). Tidak (kurang sempurna). Dari pengertian tersebut dapat diperhatikan bahwa kata cacat dalam Bahasa Indonesia selalu dikonotasikan dengan kemalangan, penderitaan atau hal yang patut disesali/ dikasihani. Anggapan ini dengan sendirinya membentuk opini publik bahwa penyandang cacat yang dalam Bahasa Inggris disebut disabled person itu adalah  orang yang lemah dan tak berdaya. Bahkan, sebutan ini juga menempatkan mereka sebagai objek dan bukan manusia. Misalkan, kita sering menyebut sepatu yang tergores dengan mengalami cacat dan orang yang mengalami kelainan fungsi atau kerusakan anatomi juga sebagai cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi konseptual, definisi penyandang cacat seperti termuat dalam UU No. 4/1997 yang juga mengacu kepada definisi yang dikeluarkan WHO, pengertian keadaan disability atau kecacatan dipahami pada konsep normal dan abnormal, yang melihat anatomi manusia sebagai sesuatu yang fleksibel dan dapat diubah. Konsekuensi pengertian ini menempatkan masalah penyandang cacat hanya pada hal yang bersifat anatomi atau proses yang bersifat psikologis semata. Misalnya, hal ini dapat dilihat dari pernyataan yang sering dikemukan sebagai berikut.” Banyak penyandang cacat tidak memiliki pekerjaan disebabkan impairment/ ketidakberfungsian organ anatomis”&lt;br /&gt;Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah hanya kondisi fisik tertentu yang menyebabkan seseorang terlibat dalam aktivitas kerja? Padahal, bekerja adalah suatu pelibatan peran seseorang yang terkait dengan faktor lingkungan. Pemahaman kecacatan yang demikian, kemudian hanya melihat masalah penyandang cacat semata dari hubungan fisik dan kemampuan untuk terlibat dalam aktivitas kerja, dan mengabaikan faktor-faktor di luar individu, misalnya, yang berasal dari masyarakat seperti  hambatan arsitektural, atau hambatan non fisik berupa sikap atau perlakuan yang menyebabkan seseorang menjadi cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model-model yang dipakai dalam kebijakan penanganan masalah penyandang cacat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.	Individual Model / Model Medis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model yang dipergunakan dalam kebijakan masalah penyandang cacat sangat ditentukan oleh bagaimana permasalahan tersebut dikonseptualisasikan. Di atas telah disebutkan bahwa, kecacatan dipahami sebagai ketidakmampuan seseorang dalam melakukan aktivitas yang dianggap normal/ layak akibat impairment yang dialaminya. Selanjutnya, pemahaman ini berimplikasi terhadap model pemecahan masalah penyandang cacat. Model yang digunakan selama ini didasari pada penggunaan strategi  medis atau yang disebut juga  strategi individual karena fokusnya pada individu penyandang cacat. Hal ini dapat dilighat dari penggunaan konsep rehabilitasi pada program-program yang ditujukan kepada penyandang cacat dan pembentukan organisasi pelayanan yang diperuntukan bagi penyandang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rehabilitasi dimaksudkan sebagai  suatu proses refungsionalisasi dan pengewmbangan untuk memungkinkan penyandang cacat mampu hidup secara wajar dalam kehidupan masyarakat. Proses ini meliputi rehabilitasi medik,  sosial, pendidikan dan vokasional. Hal ini didasari asumsi bahwa ketidaknormalan fungsi atau kerusakan struktur anatomi dapat disembuhkaan (dihilangkan), maka seseorang akan dapat melakukan aktivitas dengan layak/normal. Menurut model ini, kecacatan yang disebabkan oleh impairment adalah suatu kondisi yang bisa disembuhkan. Hal ini melihat kondisi individu sebagai sesuatu yang fleksibel atau dapat diubah, sementara lingkungan dimana seseorang itu berada dilihat sebagai suatu yang tidak mungkin berubah.  Dengan kata lain, penyandang cacat dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan medis yang didasari asumsi “penyakit sembuh maka masalah hilang”, pada kenyataannya tidak dapat menyelesaikan permasalahan penyandang cacat. Hal ini antara lain disebabkan imparment sebagai penyebab kecaatan tidak selalu dapat disembuhkan dan bahkan menetap sepanjang umur orang yang bersangkutan. Pendekatan rehabilitasi pun tidak sepenuhnya salah, namun harus diperhatikan faktor kondisi tertentu, seperti impairment yang bersifat sementara. Harus diingat, bahwa masalah penyandang cacat timbul oleh karena adanya interaksi dari akibat impairment dan faktor-faktor lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang dipergunakan untuk mendefinisikan penyandang cacat seperti tersebut di atas, berpengaruh pula terhadap pembentukan organisasi pelayanan yang dimaksudkan bagi penyandang cacat. Misalnya, Unit Pelayanan Penyandang Cacat Tubuh, Unit Pelayanan Penyandang Cacat Netra atau sebutan semacam Organisasi Untuk Kesejahteran Penyandang Cacat Mental. Tidak jarang, konsekuensi penyebutan yang demikian, menempatkan penyandang cacat sebagai subyek yang terlupakan. Mereka dikelompokan dan dikategorisasikan semata atas dasar penampilan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.	Sosial Model&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun model individual/ model medis adalah model kebijakan penanganan masalah penyandang cacat yang digunkan banyak negara di dunia, namun sejak lebih dari dua dasawarsa yang lalu diakui bahwa faktor-faktor di luar individu, seperti lingkungan fisik dan non fidik juga turut menyebabkan seseorang menjadi penyandang cacat. Untuk mengakomodasi faktor di luar individu tersebut, pembuat kebijakan perlu memperhitungkan hal tersebut dan hal inilah yang mendasari timbulnya model sosial.&lt;br /&gt;Bab IV tentang Kesamaan Kesempatan yang termuat dalam UU No. 4/1997 tentang Penyandang Cacat adalah  gambaran  dari pelaksanaan model sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Sosial umumnya beranjak dari pemikiran bahwa, hambatan-hambatan yang berasal dari luar lingkungan, yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang yang mengalami impairment dalam melakukan aktivitas sehari-hari, terjadi karena lingkungan tidak mengakomodasi kebutuhan warga negara penyandang cacat. Misalnya, arsitektur bangunan didisain dalam bentuk berundak-undak sehingga pengguna kursi roda tidak dapat masuk atau menggunakan bangunan tersebut. Dengan kata lain ada pengabaian terhadap hak-hak penyandang cacat (diskriminasi), dan oleh sebab itu hak-hak penyandang cacat haruslah dilindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui perlindungan hukum hak-hak warga negara penyandang cacat, akan dapat terlaksana persamaan kesempatan dan partisipasi penuh penyandang cacat dalam berbagai aspek hidup dan kehidupan  Sayangnya, kebutuhan warga negara penyandang cacat dalam perspektif pembuat kebijakan selalu dipandang menjadi kebutuhan yang ‘spesial’ atau dalam bentuk spesial program. Misalnya, penyediaan aksesibilitas fisik     dianggap sebagai kebutuhan yang bersifat khusus, padahal setiap orang dapat menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan prgram-program khusus atau kebijakan yang diperuntukan khusus bagi penyandang cacat memang bermanfaat , namun terbatas untuk tujuan jangka pendek, karena biasanya program atau kebijakan itu bersifat temporer (biasanya tergantung pada good will  dari pejabat berwenang dan juga tergantung pada ketersediaan dana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan  uraian di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan penyandang cacat, yaitu ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, timbul bukan saja oleh karena adanya impairment yang dialaminya, tetapi disebabkan pula oleh faktor-faktor lingkungan di luar kemampuan individu yang bersangkutan. Oleh sebab itu, konsep kecacatan haruslah dipahami dengan melibatkan unsur-unsur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pelaksanaan model individual dan model sosial yang dipakai dalam menangani permasalahan penyandang cacat, memerlukan kondisi tertentu. Baik model sosial dan model individual, dalam implementasi kebijakan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Untuk itu, permasalahan penyandang cacat haruslah dilihat sebagai sesuatu yang universal dan menyeluruh.   Universal dan menyeluruh dalam pengertian bahwa kecactan merupakan kondisi yang  wajar dalam setiap masyarakat, karena itu pembuat kebijakan seharusnya juga memandang bahwa kebutuhan penyandang  cacat adalah sama seperti warga negara lainnya dengan mengintegrasikan penyandangcacat dalam semua kebijakan yang menyakut segala aspek hidup dan penghidupan. (Makalah disampaikan oleh yangbersangkutan pada Konferensi Nasional I DNIKS yang bertema Kesejahteraan Sosial Membangun Harmoni Kehidupa dan Integrasi Sosial Bangsa, Juli 2001, di Jakarta) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Dra. Eva Rahmi Kasim, MDS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-110606023656511711?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/110606023656511711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=110606023656511711' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110606023656511711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110606023656511711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2005/01/tinjauan-terhadap-kebijakan-integrasi.html' title='TINJAUAN TERHADAP KEBIJAKAN  INTEGRASI SOSIAL PENYANDANG CACAT   KE DALAM MAINSTREAM MASYARAKAT  '/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-110294704589791101</id><published>2004-12-13T06:09:00.000-08:00</published><updated>2004-12-13T06:10:45.896-08:00</updated><title type='text'>CACATAN MENUTUP DEKADE ASIA PASIFIK  BAGI PENYANDANG CACAT  </title><content type='html'>Indonesia adalah salah satu negara anggota ESCAP&lt;br /&gt;(Komisi  Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan&lt;br /&gt;Pasifik) yang menandatangi Resolusi 48/3 tahun 1992&lt;br /&gt;tentang Dasawarsa Asia Pasifik untuk Penyandang Cacat,&lt;br /&gt;termasuk berbagai agenda aksi untuk mengisi dasawarsa&lt;br /&gt;tersebut. Setiap dua tahun sekali implementasi dari&lt;br /&gt;agenda aksi tersebut dievaluasi dalam pertemuan&lt;br /&gt;tingkat tinggi pemerintahan anggota ESCAP. Tahun 2002&lt;br /&gt;merupakan akhir Dasawarsa Asia Pasifik untuk&lt;br /&gt;Penyandang Cacat. Bagaimana  peranan dan pencapaian&lt;br /&gt;Indonesia dalam kurun waktu tersebut? Berikut ini&lt;br /&gt;beberapa cacatan tentang hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agenda aksi dasawarsa Asia dan Pasifik untuk&lt;br /&gt;penyandang cacat dimaksudkan untuk meningkatkan&lt;br /&gt;kualitas hidup penyandang cacat melalui  prinsip&lt;br /&gt;kesetaraan dan partisipasi penuh dalam berbagai aspek&lt;br /&gt;kehidupan. Agenda aksi terdiri dari 12 bidang, yaitu:&lt;br /&gt;koordinasi nasional bidang kecacatan,&lt;br /&gt;perundang-undangan, kepedulian masyarakat ,&lt;br /&gt;aksesibilitas dan komunikasi, pendidikan,&lt;br /&gt;ketenagakerjaan, rehabilitasi, penyediaan alat bantu,&lt;br /&gt;pemberdayaan organisasi penyandang cacat , serta&lt;br /&gt;kerjasama regional dan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, Indonesia sudah berupaya untuk&lt;br /&gt;melaksanakan agenda aksi itu, hal ini dapat dilihat&lt;br /&gt;dari upaya-upaya yang telah dilakukan baik oleh&lt;br /&gt;pemerintah maupun oleh masyarakat atau pemerintah&lt;br /&gt;bersama-bersama dengan masyarakat, meskipun harus&lt;br /&gt;diakui hasil dari pelaksanaan itu belum banyak memberi&lt;br /&gt;perubahan pada perbaikan kondisi penyandang cacat&lt;br /&gt;secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berberapa upaya yang telah dilakukan misalnya,&lt;br /&gt;pengkoordinasian masalah kecacatan secara nasional&lt;br /&gt;dengan pembentukan Tim Koordinasi Usaha Kesejahteraan&lt;br /&gt;Sosial Penyandang Cacat. Pengkoordinasian penangan&lt;br /&gt;masalah kecacatan secara nasional diyakini dapat&lt;br /&gt;menyatupadukan dan menghindari tumpang tindih program&lt;br /&gt;maupun kegiatan dan sekaligus memudahkan penyampaian&lt;br /&gt;pelayanan hingga ke daerah terpencil. Pemikiran&lt;br /&gt;tentang ini sudah dilaksanakan di Indonesia jauh&lt;br /&gt;sebelumpendeklarasian Dasawarsa Asia-Pasifik untuk&lt;br /&gt;Penyandang Cacat oleh UN-ESCAP. Hal ini dapat dilihat&lt;br /&gt;dalam Keppres RI No. 39 Tahun 1983 tentang Lembaga&lt;br /&gt;Koordinasi Nasional Penyandang Cacat. Keppres ini&lt;br /&gt;terakhir disempurnakan tahun 1999  dengan No. 83.&lt;br /&gt;Dalam kelembagaan ini Departemen Sosial menjadi&lt;br /&gt;leading sector , namun ketika Departemen Sosial&lt;br /&gt;dilikuidasi tahun 1999 hingga 2001, lembaga ini&lt;br /&gt;menjadi stagnan. Kevakuman lembaga ini dengan&lt;br /&gt;ketiadaan Depsos menyiratkan bahwa permasalahan&lt;br /&gt;penyandang cacat di negeri ini masih terfokus pada&lt;br /&gt;pendekatan kesejahteraan sosial, padahal permasalahan&lt;br /&gt;penyandang cacat meliputi berbagai aspek hidup dan&lt;br /&gt;kehidupan. Beruntung Depsos hadir kembali dan untuk&lt;br /&gt;mengaktifkan kembali  fungsi pengkoordinasian dalam&lt;br /&gt;penanganan masalah penyandang cacat,  Depsos kembali&lt;br /&gt;berinisiatif untuk membentuk Tim Koordinasi Usaha&lt;br /&gt;Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat (Tim UKS Paca)&lt;br /&gt;yang keanggotaannya terdiri dari beberapa wakil dari&lt;br /&gt;instansi terkait, organisasi penyandang cacat,&lt;br /&gt;pemerhati bidang kecacatan dan organisasi sosial di&lt;br /&gt;bidang kecacatan , termasuk organisasi para penyandang&lt;br /&gt;cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal peraturan perundang-undangan, di tahun 1997&lt;br /&gt;pemerintah bersama DPR berhasil menghadirkan&lt;br /&gt;Undang-undang No. 4 tentang Penyandang Cacat.&lt;br /&gt;Undang-undang ini menjadi landasan untuk peningkatan&lt;br /&gt;kualitas hidup penyandang cacat yang didsarkan atas&lt;br /&gt;prinsip kesetaraan (persamaan) kesempatan dan&lt;br /&gt;partisipasi penyandang cacat dalam berbagai aspek&lt;br /&gt;hidup dan kehidupan. Beberapa hal yang menjadi bahasan&lt;br /&gt;dalam UU ini antara lain masalah aksessibilitas,&lt;br /&gt;rehabilitasi, kesempatan kerja, kesehatan serta&lt;br /&gt;pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang tersebut juga sudah dikembangkan lebih&lt;br /&gt;jauh dalam bentukperundang-undangan lainnya, seperti&lt;br /&gt;Keppres, Peraturan Pemerintah, dan berbagai Keputusan&lt;br /&gt;Menteri, Gubernur maupun dalam bentu Surat Edaran.&lt;br /&gt;Sayangnya, meskipun UU ini sudah menyatakan tentang&lt;br /&gt;persamaan kesempatan bagi penyandang cacat, masih&lt;br /&gt;banyak peraturan perundang-undangan yang ada yang&lt;br /&gt;bersifat diskriminatif terhadap penyandang cacat dan&lt;br /&gt;belum ada upaya untuk melakukan perubahan (amandamen)&lt;br /&gt;terhadap berbagai peraturan tersebut. Selain itu,&lt;br /&gt;masih belum ada mekanisme pengawasan yang memadai atas&lt;br /&gt;pelaksanaan Undang-undang No.4 / 1997 tersebut (law&lt;br /&gt;enforcement).  Sebagai contoh, masalah aksesibilitas&lt;br /&gt;fisik. Dalam UU No.4/1997 dinyatakan bahwa persamaan&lt;br /&gt;kesempatan diwujudkan melalui penyediaan&lt;br /&gt;aksessibilitas. Lebih lanjut Kepmen PU No. 468 tahun&lt;br /&gt;1998 menjabarkan masalah aksessibilitas fisik ini yang&lt;br /&gt;berkaitan dengan lingkngan dan bangunan untuk publik.&lt;br /&gt;Kemudian Menteri Perhubungan juga mengeluarkan Surat&lt;br /&gt;Keputusan tentaang Penyediaan Aksesibilitas dalam&lt;br /&gt;pemakaian transportasi umum bagi penyandang cacat dan&lt;br /&gt;lansia, yang dituangkan dalam SK No. 71 tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksessibilitas yang merupakan prasyarat bagi&lt;br /&gt;penyandang cacat untuk dapat berpartisipasi dalam&lt;br /&gt;masyarakat bukan hanya bersifat fisik, seperti&lt;br /&gt;lingkungan yang bebas hambatan dan transportasi yang&lt;br /&gt;mudah, tetapi juga meliputi aspek non fisik seperti&lt;br /&gt;sikap atau penerimaan masyarakat akan keberadaan&lt;br /&gt;pnyandang cacat. Sikap yang diharapkan adalah&lt;br /&gt;penerimaan secara wajar dan meniadakan diskriminasi&lt;br /&gt;serta stigmasasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan lain yang perlu menjadi perhatian adalah&lt;br /&gt;masalah informasi dan data penyandang cacat. Hingga&lt;br /&gt;saat ini informasi dan data tentang penyandang cacat&lt;br /&gt;masih bersifat umum, itupun belum ada keseragaman&lt;br /&gt;definisi tentang penyandang caat dan cara pengumpulan&lt;br /&gt;data yang digunakan.  Sebagai contoh, Depsos&lt;br /&gt;mengelompokan jenis kecacatan atas dasar jenis cacat&lt;br /&gt;tubuh, netra, mental, rungu dan wicara, psikotik dan&lt;br /&gt;eks penyakit kronis. Sedangkan Depkes mengacu pada&lt;br /&gt;definisi yang dikeluarkan WHO tentang Impairement,&lt;br /&gt;Disability dan Handicap. Kehadiran data yang akurat&lt;br /&gt;sangat diperlukan dalam perencanaan pelayanan bagi&lt;br /&gt;penyandang cacat, misalnya, penyandang cacat yang&lt;br /&gt;bermukim di pedesaan bisa jadi memerlukan pelayanan&lt;br /&gt;yang berbeda dengan mereka yang tinggal di perkotaan.&lt;br /&gt;Begitu juga penyandang caca anak, wanita  yang&lt;br /&gt;memerlukan pelayanan khusus. Untuk hal-hal tersebut&lt;br /&gt;maka ketersediaan data dan informasi adalah sangat&lt;br /&gt;penting.&lt;br /&gt;Kesempatan kerja penyandang cacat, menjadi cacatan&lt;br /&gt;penting dalam menutup Dekade Asia-Pasifik bagi&lt;br /&gt;Penyandang Cacat. Belum ada keterangan yang dapat&lt;br /&gt;dijadikan pegangan untuk mengetahui keberadaan&lt;br /&gt;penyandang cacat yang masuk ke dalam sektor kerja&lt;br /&gt;formal maupun yang mandiri secara ekonomi , namun&lt;br /&gt;dapat dipastikan sangat sedikit sekali dari mereka&lt;br /&gt;yang mamp menembus sektor kerja formal. Kenyataan ini&lt;br /&gt;didukung oleh buruknya situasi perekonomian dalam&lt;br /&gt;kurun waktu lebih dari 5 tahun terakhir yang berakibat&lt;br /&gt;semakin banyaknya pengangguran dan semakin&lt;br /&gt;kompetitifny persaingan memasuki bursa kerja.&lt;br /&gt;Sebenarnya, peluang kerja bagi penyandang cacatsudah&lt;br /&gt;dijamin dalam UU No.4 /1997 dengan penerapan Quota&lt;br /&gt;system, yaitu setiap perusahaan diwajibkan&lt;br /&gt;mempekerjakan penyandang cacat sebanyak 1 per sen dari&lt;br /&gt;jumlah tenaga kerjanya atau membayar denda atau&lt;br /&gt;dikenakan sanksi kurungan penjara. Namun, sayangnya&lt;br /&gt;pelaksanaan ketentuan ini belum ditindaklanjuti secara&lt;br /&gt;tegas, misalnya siapa yang berwenang melakukan&lt;br /&gt;monitoring terhadap pelaksanaannya dan kepada siapa&lt;br /&gt;denda dibayarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain melalui kesempatan kerja di bursa kerja,&lt;br /&gt;pemerintah juga sudah melakukan upaya peningkatan&lt;br /&gt;keterampilankerja melalui program-program vokasional&lt;br /&gt;training dan upaya kerja mandiri melalui KUBE&lt;br /&gt;(Kelompok  Usaha Bersaama). Strategi ini dapat&lt;br /&gt;membantu menghapuskan/mengurangi pengangguran di&lt;br /&gt;kalangan penyandang cacat, namun lagi-lagi program ini&lt;br /&gt;sering berhenti di tengah jalan atau tidak&lt;br /&gt;berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberdayaan organisasi penyandang cacat juga patut&lt;br /&gt;menjadi cacatan. Kelompok penyandang caat sanat&lt;br /&gt;penting peranannya dalam peningkatan kualitas hidup&lt;br /&gt;penyandang cacat. Mereka mengupayakan advokasi bagi&lt;br /&gt;kelompoknya dan menjadi role model . Keterlibatan&lt;br /&gt;mereka dalam program-program yang menyangkut&lt;br /&gt;penyandang cacat sangat diperlukan baik dalam hal&lt;br /&gt;perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasinya.&lt;br /&gt;Keberadaan kebanyakan organisasi penyandang cacat&lt;br /&gt;hingga kini belum dilengkapi dengan kemampuan&lt;br /&gt;manajerial dan finansil yang memadai. Pelibatan mereka&lt;br /&gt;yang berada di akar rumput (daerah dan daerah&lt;br /&gt;terpencil) masih kurang dan perhatian masih cenderung&lt;br /&gt;pada mereka yang di kota -kota besar. Untuk&lt;br /&gt;peningkatan (capacity building) organisasi penyandang&lt;br /&gt;cacat harus terus diupayakan agar mereka dapat menjadi&lt;br /&gt;agen pembaruan yang efektif bagi kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menutup Dekade Asia-Pasifik untuk Penyandang Cacat,&lt;br /&gt;para pemimpin negara anggota ESCAP yang hadir pada&lt;br /&gt;pertemuan tingkat tinggi di Otsu, Shiga, Jepang,&lt;br /&gt;sepakat untuk melanjutkan Dekade kedua Asia-Pasifik&lt;br /&gt;bagi Penyandang Cacat dan meneruskan agenda aksi yang&lt;br /&gt;belum terlaksana. Kesepakatan itu dituangkan dalam&lt;br /&gt;Kerangka kerja yang disebut Biwako Millenium Framework&lt;br /&gt;yang bertemakan masyarakat untuk semua, bebas dari&lt;br /&gt;hambatan dan rintangan bagi penyandang cacat baik&lt;br /&gt;fisik maupun non fisik  serta didasarkan pada hak&lt;br /&gt;asasi manusia. Prioritas masalah kecacatan yang&lt;br /&gt;menjadi target perhatian diantaranya adalah&lt;br /&gt;pemberdayaan organisasi penyandang cacat, wanita&lt;br /&gt;penyandang cacat, deteksi dini  kecacatan dan&lt;br /&gt;pencegahan kcacatan, pendidikan, ketenagakerjaan, &lt;br /&gt;aksessibilitas dan penghapusan kemiskinan. (eva)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-110294704589791101?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/110294704589791101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=110294704589791101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110294704589791101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110294704589791101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2004/12/cacatan-menutup-dekade-asia-pasifik.html' title='CACATAN MENUTUP DEKADE ASIA PASIFIK  BAGI PENYANDANG CACAT  '/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-110258226155835978</id><published>2004-12-09T01:49:00.000-08:00</published><updated>2004-12-09T00:51:01.556-08:00</updated><title type='text'>PENCA DAN SISTEM PEMILU  </title><content type='html'>Berpartisipasi dalam Pemilu, baik sebagai pemilih&lt;br /&gt;ataupun dipilih adalah hak dan kwajiban setiap warga&lt;br /&gt;negara. Pemilu diyakini mempunyai arti penting dalam&lt;br /&gt;setiap penyelenggaraan pemerintahan karena Pemilu&lt;br /&gt;adalah pelaksanaan dari gagasan demokrasi pemerintah&lt;br /&gt;oleh rakyat. Suatu pemerintahan dianggap demokratis&lt;br /&gt;apabila rakyat berpartisipasi di dalam jalannya roda&lt;br /&gt;pemerintahan. Melalui Pemilu anggota parlemen sebagai&lt;br /&gt;wakil rakyat dipilih, selanjutnya anggota parlemen&lt;br /&gt;inilah yang membuat kebijakan untuk rakyat. Akan&lt;br /&gt;tetapi, banyak anggota masyarakat yang tidak dapat&lt;br /&gt;berpartisipasi dalam Pemilu, terutama para penyandang&lt;br /&gt;masalah kesejahteraan sosial. Bahkan ada kecenderungan&lt;br /&gt;untuk menghalangi mereka berpartisipasi secara&lt;br /&gt;demokratis. Salah satu kelompok masyarakat penyandang&lt;br /&gt;masalah sosial  yang terabaikan haknya dalam sistem&lt;br /&gt;Pemilu adalah para penyandang cacat (untuk selanjutnya&lt;br /&gt;dalam tulisan ini disebut penca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi Politik Penca&lt;br /&gt;Seperti disebutkan di atas, salah satu tujuan Pemilu&lt;br /&gt;adalah memilih wakil rakyat untuk duduk di Parlemen,&lt;br /&gt;dan selanjutnya anggota Parlemen yang membuat&lt;br /&gt;kebijakan  yang menyangkut pemenuhan kebutuhan rakyat&lt;br /&gt;yang memilihnya. Kebijakan yang dibuat tentunya juga&lt;br /&gt;menyangkut kebutuhan pelayanan yang dibutuhkan oleh&lt;br /&gt;penyandang cacat sebagai warga negara. Bagi penca,&lt;br /&gt;partisipasi untuk dapat dipilih dalam Pemilu adalah&lt;br /&gt;penting sebagai "user" pelayanan publik untuk ikut&lt;br /&gt;merumuskan kebijakan pelayanan yang dibutuhkannya,&lt;br /&gt;karena sebagai "user" penca akan lebih tahu dan&lt;br /&gt;mengerti apa kebutuhannya.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, penca perlu memiliki wakil di&lt;br /&gt;Parlemen, untuk dapat menyuarakan aspirasi kaum penca&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Kehadiran wakil penca di parlemen dapat melalui&lt;br /&gt;partai politik ataupun dengan penunjukan dalam Utusan&lt;br /&gt;Golongan. Penunjukan wakil penca di Parlemen melalui&lt;br /&gt;Utusan Golongan dilakukan oleh beberapa negara seperti&lt;br /&gt;Jepang, juga di Indonesia untuk Pemilu 1999.&lt;br /&gt;Keterwakilan melalui Utusan Golongan bukanlah hal yang&lt;br /&gt;mudah, karena memerlukan wakil yang benar-benar dapat&lt;br /&gt;mewakili  aspirasi penca yang terdiri dari berbagai&lt;br /&gt;jenis kecacatan dan setiap jenis kecacatan mempunyai&lt;br /&gt;kebutuhan yang berbeda. Untuk dipilih dalam proses&lt;br /&gt;Pemilu, sistem Pemilu yang ada belum dapat memberikan&lt;br /&gt;kesempatan bagi penca untuk menggunakan hak politiknya&lt;br /&gt;secara wajar sebagaimana warga negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Aturan  Sistem Pemilu Berkenaan dengan&lt;br /&gt;Kecacatan &lt;br /&gt;Setiap negara memiliki aturan yang mengatur&lt;br /&gt;keikutsertaaan warganegaranya dalam proses Pemilu.&lt;br /&gt;Aturan Sistem Pemilu tersebut bagi penca dapat menjadi&lt;br /&gt;pendorong untuk ikut serta berpartisipasi dalam Pemilu&lt;br /&gt;dan juga sekaligus merupakan hambatan bagi&lt;br /&gt;keikutsertaaanya dalam proses Pemilu. Berikut ini&lt;br /&gt;beberapa aturan-aturan tersebut yang berlaku di&lt;br /&gt;beberapa negara:&lt;br /&gt;A. Aturan mengenai  Pembatasan Keikutsertaan Penca&lt;br /&gt;dalam Pemilu:&lt;br /&gt;Batasan ini biasanya menyangkutkecacatan  mental dan&lt;br /&gt;fisik. Yang menyangkut kecacatan mental, di beberapa&lt;br /&gt;negara aturan Pemilunya menyatakan bahwa seseorang&lt;br /&gt;yang dinyatakan tidak waras atau dinyatakan berpikiran&lt;br /&gt;tidak sehat dengan cara lainnya berdasarkan&lt;br /&gt;undang-undang dilarang memilih atau mendaftar sebagai&lt;br /&gt;pemilih. Di Italia, Belanda, Serbia dan Slovakia&lt;br /&gt;secara jelas dinyatakan bahwa mereka yang sudah&lt;br /&gt;kehilangan "kemampuan berusaha", "kemampuan bekerja"&lt;br /&gt;dan "kecakapan" hukum dil;arang memilih dan mendaftar&lt;br /&gt;untuk ikut dalam Pemilu.&lt;br /&gt;Aturan Pemilu yang membatasi keikutsertaan penca&lt;br /&gt;dalam Pemilu yang  menyangkut kecacatan fisik biasanya&lt;br /&gt;halangan yang menyangkut kemampuan berbicara. Hal ini&lt;br /&gt;berlaku di Negara-negara Persemakmuran, misalnya&lt;br /&gt;ketentuan : "seseorang dinyatakan memenuhi syarat&lt;br /&gt;untuk dipilih sebagai anggota Dewan Nasional apabila,&lt;br /&gt;dan tidak akan memenuhi syarat untuk dipilih, kecuali&lt;br /&gt;jika dia..dapat berbicara,."  Selain kemampuan bicara&lt;br /&gt;juga ada aturan yang menyangkut kemampuan baca dan&lt;br /&gt;tulis, seperti dinyatakan "seorang calon harus dapat&lt;br /&gt;membaca dan menulis", di beberapa negara ketentuan ini&lt;br /&gt;ditambah dengan "kemampuan membaca dan menulis dalam&lt;br /&gt;bahasa nasional".  Ketentuan-ketentuan tersebut&lt;br /&gt;ditambah lagi dengan keharusan tidak tuli dan buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Aturan  yang mendorong keikutsertaan Penca dalam&lt;br /&gt;Sistem Pemilu&lt;br /&gt;Aturan dalam  sistem Pemilu tidak sepenuhnya&lt;br /&gt;menghalangi keikutsertaan  penca untuk berpartisipasi&lt;br /&gt;dalam Pemilu, karena juga ada aturan yang mendorong&lt;br /&gt;penca untuk ikut dalam pemilu, namun lebih untuk&lt;br /&gt;keikutsetaan  sebagai pemilih. Hal ini dapat dilihat&lt;br /&gt;dari berbagai aturan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan bagi Pemilih untuk didampingi dalam memberikan&lt;br /&gt;hak suaranya&lt;br /&gt; Di beberapa negara, pemilih yang tidak mampu untuk&lt;br /&gt;memilih sendiri karena kondisinya, diperbolehkan untuk&lt;br /&gt;didampingi orang lain dalam memberikan pilihannnya. Di&lt;br /&gt;Irlandia, misalnya dinyatakan bahwa jika seorang&lt;br /&gt;pemilih adalah buta, ia boleh didampingi dalam&lt;br /&gt;melakukan pemilihan, namun pemilih yang buta hanya&lt;br /&gt;boleh didampingi oleh petugas Tempat Pemungutan Suara&lt;br /&gt;(TPS), apabila ia cacat tubuh, ia boleh didampingi&lt;br /&gt;oleh teman atau petugas TPS. Di beberapa negara,&lt;br /&gt;ketentuan ini ditambah lagi dengan aturan bahwa si&lt;br /&gt;pendamping harus mengambil sumpah atas kebenaran&lt;br /&gt;keadaan ketidakmampuan sipemilih yang didampinginya&lt;br /&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan memperoleh  kemudahan dalam memilih tempat&lt;br /&gt;suara dan format kertas suara dalam Pemilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya, pemilihan suara yang diberikan oleh pemilih&lt;br /&gt;dilakukan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang telah&lt;br /&gt;ditentukan. Di bebebrapa negara, pemilih penyandang&lt;br /&gt;cacat  diperbolehkan untuk menggunakan alternatif&lt;br /&gt;lain. Di Australia, seandainya seorang pemilih berada&lt;br /&gt;cukup dekat dengan TPS, namun tidak mampu hadir ke&lt;br /&gt;tempat itu karena ketidakmampuan fisik, petugas yang&lt;br /&gt;berwewenang dalam Pemilu membawakan kertas suaranya&lt;br /&gt;atau pemilih dapat memberikan kartu suaranya lewat&lt;br /&gt;kantor pos. Di Afrika Selatan, pemilih yang tidak&lt;br /&gt;dapat datang ke TPS di mana mereka terdaftar, karena&lt;br /&gt;kelemahan fisik dan atau mental, penca atau wanita&lt;br /&gt;hamil dikategorikan sebagai pemilih khusus dan boleh&lt;br /&gt;memberikan hak suaranya pada TPS khusus sehari sebelum&lt;br /&gt;hari Pemilu dilaksanakan. Di Filipina, ada aturan yang&lt;br /&gt;menyatakan bahwa petugas Pemilu harus memperhatikan&lt;br /&gt;tempat pemungutan suara di seluruh wilayah di mana di&lt;br /&gt;sana  terdaftar pemilih penca, yaitu di berada di&lt;br /&gt;lantai dasar. Di Srilanka dan Malawi, pemerintah&lt;br /&gt;menyediakan transportasi bagi pemilih penca untuk&lt;br /&gt;menuju dan kembali dari TPS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk format kertas suara, di Chili, pemerintah&lt;br /&gt;menyediakan sebuah lempengan yang berisi huruf braile&lt;br /&gt;atau kertas timbul bagi pemilih penca netra. Lempengan&lt;br /&gt;tersebut diletakan di atas kertas suara biasa untuk&lt;br /&gt;membantu si pemilih dalam menentukan calon yang&lt;br /&gt;diinginkannya. Di Australia, disediakan Kartu Penunjuk&lt;br /&gt;Pemilihan (How to Vote Card) bagi pemilih penca.&lt;br /&gt;Melalui kartu tersebut, pemilih penca menjelaskan&lt;br /&gt;kepada orang yang mendampinginya bagaimana ia menandai&lt;br /&gt;kertas suara tersebut untuk calon yang dipilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi Penca Indonesia dalam Pemilu&lt;br /&gt;Jumlah  penca di Indonesia cukup besar, menurut WHO&lt;br /&gt;(1988)  10 per sen populasi dari setiap negara adalah&lt;br /&gt;penca. Jika saat ini penduduk Indonesia diperkirakan&lt;br /&gt;200 juta  orang, maka 10 persen dari itu atau 20 juta&lt;br /&gt;orang adalah penca. Namun, disayangkan jumlah yang&lt;br /&gt;besar ini belum banyak yang menggunakan hak-hak&lt;br /&gt;politiknya dalam pemilu, terutama hak politik untuk&lt;br /&gt;dipilih sebagai anggota parlemen. Hal ini terutama&lt;br /&gt;karena sistem pemilu yang ada saat ini belum&lt;br /&gt;memberikan ruang yang sama kepada penca sebagai mana&lt;br /&gt;warga negara Indonesia lainnya. Misalnya, salah satu&lt;br /&gt;ketentuan yang dimuat dalam UU Pemilu menyebutkan&lt;br /&gt;bahwa untuk dapat dipilih dalam Pemilu seeorang  harus&lt;br /&gt;dapat membaca dan menulis huruf latin. Persyaratan ini&lt;br /&gt;jelas menggugurkan keikutsertaan calon penca yang&lt;br /&gt;karena kecacatannya hanya mampu membaca dan menulis&lt;br /&gt;dalm huruf Braile, belum lagi ketentuan-ketentuan lain&lt;br /&gt;yang secara langsung atau tidak langsung menghalangi&lt;br /&gt;keikutsertaan penca untuk dapat dipilih dalam Pemilu.&lt;br /&gt;Untuk memberikan tempat kepada wakil penca di&lt;br /&gt;Parlemen, dalam Pemilu 1999 yang lalu ditetapkan 2&lt;br /&gt;orang penca  dalm Utusan Golongan di MPR. Akan tetapi&lt;br /&gt;kemudian timbul pertanyaan, siapa yang seharusnya&lt;br /&gt;mengusulkan mereka untuk duduk di tempat terhormat&lt;br /&gt;tersebut, karena begitu banyak organisasi kecacatan,&lt;br /&gt;baik ormas maupun orsosnya, apakah mereka cukup&lt;br /&gt;representative untuk mewakili beragam jenis kecacatan&lt;br /&gt;mapun kompetensinya untuk menyuarakan aspirasi kaum&lt;br /&gt;penca?&lt;br /&gt;Pada sisi lain, jumlah penca yang besar ternyata cuma&lt;br /&gt;dimanfaatkan oleh partai-partai politik yang ada untuk&lt;br /&gt;mendapatkan  suara darinya, misalnya, menjelang&lt;br /&gt;Pemilu, partai-partai politik berlomba-lomba&lt;br /&gt;memberikan santunan  atau sumbangan untuk menarik&lt;br /&gt;mereka. Padahal, yang diinginkan penca sebenarnya&lt;br /&gt;bukan  santunan yang sifatnya sementara, melainkan&lt;br /&gt;suatu jaminan dari negara untuk mendapatkan pelayanan&lt;br /&gt;dasar sebagai mana warga negara lainnya dan pelayanan&lt;br /&gt;yang bersifat khusus berkenaan dengan kecacatannya. &lt;br /&gt;Untuk memperbaiki partisipasi penca dalam pemilu,&lt;br /&gt;barangkali penca sendiri perlu meningkatan&lt;br /&gt;kesadarannya dalam berpolitik, termasuk untuk&lt;br /&gt;menghimbau pihak-pihak yang berwewenang dalam proses&lt;br /&gt;Pemilu memperbaiki sistem Pemilu yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Dra. Eva Rahmi Kasim, MDS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-110258226155835978?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/110258226155835978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=110258226155835978' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110258226155835978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110258226155835978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2004/12/penca-dan-sistem-pemilu.html' title='PENCA DAN SISTEM PEMILU  '/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-110258214673637335</id><published>2004-12-09T01:47:00.000-08:00</published><updated>2004-12-09T00:49:06.736-08:00</updated><title type='text'>PEGAWAI PEMERINTAH MEMEGANG PERANAN PENTING DALAM  KEBERHASILAN PROGRAM PENINGKATAN   KUALITAS HIDUP PENYANDANG CACAT     </title><content type='html'>Anggota redaksi Info Societa, Dra. Eva Rahmi Kasim,&lt;br /&gt;MDS, bersama DR. Yasin Siswanto, Asisten Deputi Bidang&lt;br /&gt;Keamanan Sosial Kementerian Koordinator Bidang&lt;br /&gt;Kesejahteran Rakyat, pada tanggal 23  sampai dengan 30&lt;br /&gt;Maret yang lalu mendapat kesempatan untuk berkunjung&lt;br /&gt;ke Bangkok, Thailand,  mengikuti International&lt;br /&gt;Workshop on Raising Disability Awareness of Public&lt;br /&gt;Administration Personnel to Promote Disabled Person's&lt;br /&gt;Inclusion in Development Process. Keikutsertaan&lt;br /&gt;keduanya mewakili Indonesia dan keberangkatannya &lt;br /&gt;disponsori oleh Colombo Plan dan UN-ESCAP (Komisi&lt;br /&gt;Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik),&lt;br /&gt;sebagai penyelenggaraan workshop yang pertama kalinya&lt;br /&gt;diadakan bagi pegawai pemerintahan di kawasan Asia dan&lt;br /&gt;Pasifik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Colombo Plan adalah forum kerjasama negara Selatan&lt;br /&gt;-selatan yang mempunyai kegiatan utama pada&lt;br /&gt;pengembangan sumber daya manusia negara anggotanya&lt;br /&gt;dalam rangka peningkatan pembangunan sosial dan&lt;br /&gt;ekonomi. Saat ini negara yang tergabung dalam  Colombo&lt;br /&gt;Plan adalah: Afganistan, Australia, Bangladesh,&lt;br /&gt;Buthan, Kamboja, Fiji, Indonesia, India, Jepang,&lt;br /&gt;Korea, Laos, Malaysia, Maldev, Myanmar, New Zealand, &lt;br /&gt;Pakistan, Papua Nugini, Philipina, Singapura,&lt;br /&gt;Srilanka, Thailand, Vietnam dan Amerika Serikat. &lt;br /&gt;Sedangkan UN-ESCAP adalah Komisi Ekonomi dan Sosial&lt;br /&gt;Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Asia dan Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Workshop diikuti oleh 20 peserta dari 14 negara itu &lt;br /&gt;membahas  beberapa pokok bahasan penting, yaitu&lt;br /&gt;internasional mandats tentang kecacatan;&lt;br /&gt;kecacatan,kemiskinan dan pembangunan; lingkungan yang&lt;br /&gt;bersahabat bagi penyandang cacat; sebab dan pencegahan&lt;br /&gt;kecacatan; kesehatan, pendidikan dan ketenagakerjaan;&lt;br /&gt;dan mobilisasi sosial bagi peningkatan kualitas hidup&lt;br /&gt;penyandang cacat. Workshop disampaikan dalam berbagai&lt;br /&gt;format, antara lain diskusi kelompok, kunjungan&lt;br /&gt;lapangan ke daerah kumuh  Klong Toey di kota Bangkok,&lt;br /&gt;latihan simulasi pengalaman kecacatan, panel diskusi,&lt;br /&gt;presentasi dan pengembangan rencana aksi perorangan&lt;br /&gt;dan kelompok. Berdasarkan hasil diskusi dan pemaparan&lt;br /&gt;para peserta diketahui bahwa beberapa negara sudah&lt;br /&gt;mengintegrasikan dan mengarusutamakan dimensi&lt;br /&gt;kecacatan dalam program pembangunan  yang didasarkan&lt;br /&gt;atas prinsip-rinsip hak-hak penyandang cacat, namun&lt;br /&gt;pelaksanaannya masih dihadapi pada berbagai kendala,&lt;br /&gt;misalnya anggapan bahwa masalah penyandang cacat&lt;br /&gt;semata-mata tugas dari kementerian sosial sehingga&lt;br /&gt;sektor-sektor lain merasa tidak berkewajiban untuk&lt;br /&gt;menanganinya, selain itu juga kurangnya dukungan&lt;br /&gt;dansensitivitas dikalangan para pembuat kebutusan&lt;br /&gt;terhadap masalah ini yang berakibat  masalah&lt;br /&gt;penyandang cacat dinomor duakan, termasuk dalam&lt;br /&gt;pengalokasian dana pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deputy Executive Secretary UN ESCAP, Ms. Keiko Okaido,&lt;br /&gt;mewakili Direktur UN-ESCAP, dalam pembukaan workshop&lt;br /&gt;tersebut mengatakan bahwa selama lebih dari satu&lt;br /&gt;dasawarsa, ESCAP menjadikan masalah kecacatan sebagai&lt;br /&gt;salah satu prioritas program kerjanya, antara lain&lt;br /&gt;dengan menetapkan tahun 1993-2002 sebagai Dekade&lt;br /&gt;Penyandang Cacat Asia Pasifik beserta Agenda For&lt;br /&gt;Action untuk mengisi dasawarsa itu. Hasilnya, selama&lt;br /&gt;itu pula telah terjadi perbaikan dalam upaya&lt;br /&gt;peningkatan kualitas hidup penyandang cacat, terutama&lt;br /&gt;semakin banyaknya negara anggota yang memiliki&lt;br /&gt;undang-undang penyandang cacat dan memiliki mekanisme&lt;br /&gt;koordinasi nasional dalam program kecacatan. Dari&lt;br /&gt;evaluasi yang dilakukan UN-ESCAP, diakuinya pula bahwa&lt;br /&gt;masih banyak pula program-program kecacatan yang belum&lt;br /&gt;berhasil, termasuk pula dalam pelibatan penyandang&lt;br /&gt;cacat dalam pembangunan. Untuk itulah, maka UN-ESCAP&lt;br /&gt;kembali memberi perhatian utama pada masalah ini&lt;br /&gt;dengan menetapkan Dekade II Penyandang Cacat Asia&lt;br /&gt;Pasifik 2003-2012 dan menghimbau negara-negara&lt;br /&gt;anggotanya untuk melaksanakan program-program&lt;br /&gt;kecacatan selama kurun waktu tersebut. Program ini&lt;br /&gt;dituangkan dalam rencana aksi yang disebut Kerangka&lt;br /&gt;Kerja Biwako Milenium  yang dilahirkan pada pertemuan&lt;br /&gt;pejabat pemerintahan anggota ESCAP di Otshu, Jepang&lt;br /&gt;dan disetujui oleh para pejabat yang mewakili&lt;br /&gt;negara-negara ESCAP.  Kerangka Kerja Biwako Milenium&lt;br /&gt;menetapkan  7 program prioritas yang harus menjadi&lt;br /&gt;perhatian, yaitu: 1. Self-Help Organisasi Penyandang&lt;br /&gt;Cacat dan Perkumpulan Orang Tua Penyandang Cacat, 2.&lt;br /&gt;Wanita Penyandang Cacat, 3. Pencegahan, deteksi dan&lt;br /&gt;intervensi dini kecacatan serta Pendidikan, 4.&lt;br /&gt;Pelatihan dan penempatan kerja, 5. Akses terhadap&lt;br /&gt;lingkungan dan transportasi umum, 6. Akses terhadap&lt;br /&gt;informasi dan komunikasi serta 7. Pengentasan&lt;br /&gt;kemiskinan melalui peningkatan kemampuan perlindungan&lt;br /&gt;sosial dan kelangsungan hidup. Menurut Deputy&lt;br /&gt;Executive Secretary UN-ESCAP, keberhasilan dalam&lt;br /&gt;pencapaian pelaksanaan program kerja Biwako Milenium&lt;br /&gt;ini di masing-masing negara sangat ditentukan oleh&lt;br /&gt;para pegawai pemerintahan yang merupakan para pembuat&lt;br /&gt;dan pelaksana kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Direktur  Program Administrasi&lt;br /&gt;Pemerintahan, Colombo Plan, Tomikazu Inagaki,&lt;br /&gt;mengatakan bahwa sejak tahun 2002, Colombo Plan telah&lt;br /&gt;melakukan peningkatan aktivitas dan diversifikasi&lt;br /&gt;program termasuk pula berkoloborasi dengan berbagai&lt;br /&gt;organisasi internasional dalam penyelenggaraan&lt;br /&gt;pelatihan dan pendidikan bagi pegawai pemerintahan.&lt;br /&gt;Hal ini bertujuan untuk pelaksanaan projects di bidang&lt;br /&gt;perumusan kebijaksanaan ekonomi makro dan manajement&lt;br /&gt;yang memperhatikan aspek-aspek pembangunan yang&lt;br /&gt;berkelanjutan, masalah lingkungan, penghapusan&lt;br /&gt;kemiskinan, good governance , pemanfaatan Informasi&lt;br /&gt;dan Teknologi dalam administrasi, kerjasama eknomi&lt;br /&gt;internasional dan sebaginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengunjungi Klong Toey, daerah kumuh kota Bangkok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klong Toey adalah daerah kawasan paling kumuh di kota&lt;br /&gt;Bangkok, kontras dengan gedung-gedung pencakar langit,&lt;br /&gt;pusat perbelanjaan dan hotel-hotel mewah disekitarnya.&lt;br /&gt;Daerah ini didiami oleh lebih dari 1000 komunitas&lt;br /&gt;miskin. Mereka yang tinggal di area tersebut umumnya&lt;br /&gt;bekerja di sektor informal, seperti pemulung, pekerja&lt;br /&gt;pelabuhan, pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima&lt;br /&gt;dan juga pengangguran yang datang dari daerah pedesaan&lt;br /&gt;di sekitar kota Bangkok. Para peserta workshop&lt;br /&gt;mengunjungi daerah ini untuk melihat sendiri&lt;br /&gt;permasalahan sosial yang ada di daerah itu dan&lt;br /&gt;sekembalinya dari kunjungan tersebut mendiskusikan&lt;br /&gt;kenyataan yang dilihat di lapangan dan kemudian&lt;br /&gt;membuat rencana kerja untuk mengatasi persoalan&lt;br /&gt;semacam itu, khususnya yang berkaitan dengan&lt;br /&gt;permasalahan penyandang cacat dan keluarganya yang&lt;br /&gt;berdiami daerah miskin perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta juga melakukan diskusi dengan para&lt;br /&gt;aktivist penyandang cacat lokal dan sebuah lembaga&lt;br /&gt;organisasi masyarakat setempat yang sejak tahun 1978&lt;br /&gt;terus menerus melakukan perbaikan kehidupan warga&lt;br /&gt;daerah kumuh ini dari berbagai aspek. Lembaga&lt;br /&gt;organisasi masyarakat itu bernama Duang Prateep&lt;br /&gt;Foundation dan didirikan oleh warga daerah kumuh itu&lt;br /&gt;dan merekruit pekerja sosial masyarakat yang berasal&lt;br /&gt;darikalangan penduduk miskin itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latihan Simulasi Kecacatan&lt;br /&gt;Latihan Simulasi Kecacatan merupakan salah satu&lt;br /&gt;program workshop yang paling berkesan bagi peserta.&lt;br /&gt;Dalam program ini, para peserta yang umumnya bukan&lt;br /&gt;penyandang cacat itu selama setengah hari menjalani&lt;br /&gt;pelatihan seakan-akan mereka adalah para penyandang&lt;br /&gt;cacat. Peserta yang seolah-olah pengguna kursi roda,&lt;br /&gt;pemakai tongkat putih dan lansia yang rapuh ,&lt;br /&gt;mendatangi tempat-tempat keramaian seperti pasar dan&lt;br /&gt;jalan-jalan umum. Mereka merasakan bagaimana susahnya&lt;br /&gt;menjadi penyandang cacat, baik dalam menghadapi&lt;br /&gt;lingkungan fisik seperti trotoar, dan bangunan yang&lt;br /&gt;tidak bersahabat dengan kondisi kecacatan, juga&lt;br /&gt;pandangan dan sikap orang-orang sekitar yang melihat&lt;br /&gt;aneh pada kondisi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; DR Yasin  Siswanto dalam simulasi itu berperan&lt;br /&gt;sebagai pengguna kursi roda mengungkapkan&lt;br /&gt;pengalamannya bahwa ternyata tidak mudah menggunakan&lt;br /&gt;kursi roda, "diperlukan banyak energi untuk mendorong&lt;br /&gt;sendiri kursi roda , lebih dari apa yang saya&lt;br /&gt;perkirakan sebelumnya".  Hal senada juga dikemukakan&lt;br /&gt;oleh  Muhammad Madjid dari Pakistan yang dinegerinya&lt;br /&gt;adalah seorang direktur untuk urusan pendidikan khusus&lt;br /&gt;( di Indonesia pendidikan luar biasa). Ia yang&lt;br /&gt;berperan sebagai orang lanjut usia yang bermasalah&lt;br /&gt;dengan fungsi-fungsi tubuh seperti penglihatan yang&lt;br /&gt;kabur, tungkai yang lemah dan kaku, mengaku selama&lt;br /&gt;setengah hari menjalani pelatihan ia merasa seluruh&lt;br /&gt;tubuh menjadi lemas tanpa daya dan membutuhkan bantuan&lt;br /&gt;orang lain," apalagi bila hal itu benar-benar&lt;br /&gt;terjadi".  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kebanyakan orang  tidak akan pernah mengerti&lt;br /&gt;seperti apa dan bagaimana masalah penyandang cacat,&lt;br /&gt;kecuali bila pernah merasakannya. Itulah ide&lt;br /&gt;dibelakang penyelenggaraan latihan simulasi ini untuk&lt;br /&gt;menimbulkan rasa sensitivitas mereka terhadap isu&lt;br /&gt;kecacatan.  (eva)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan dari International Workshop&lt;br /&gt; on Raising Disability Awareness of Public&lt;br /&gt;Administration Personnel &lt;br /&gt;to Promote Disabled Person's Inclusion in Development&lt;br /&gt;Process,&lt;br /&gt; Bangkok, 24 s/d 29 Maret 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-110258214673637335?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/110258214673637335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=110258214673637335' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110258214673637335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110258214673637335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2004/12/pegawai-pemerintah-memegang-peranan.html' title='PEGAWAI PEMERINTAH MEMEGANG PERANAN PENTING DALAM  KEBERHASILAN PROGRAM PENINGKATAN   KUALITAS HIDUP PENYANDANG CACAT     '/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-110258203705812842</id><published>2004-12-09T01:45:00.000-08:00</published><updated>2004-12-09T00:47:17.056-08:00</updated><title type='text'>MASALAH PENYANDANG CACAT DAN ASPEK BUDAYA</title><content type='html'>Lebih dari dua dasawarsa yang lalu terjadi perubahan&lt;br /&gt;penting dalam paradigma penanganan penyandang cacat&lt;br /&gt;yang dipelopori terutama oleh para penyandang cacat&lt;br /&gt;itu sendiri. Perubahan itu adalah pergeseran dari&lt;br /&gt;memandang kecacatan sebagai akibat kerusakan atau&lt;br /&gt;kelainan anatomi atau kelainan fungsi fisik atau&lt;br /&gt;mental seseorang yang menyebabkannya tidak dapat&lt;br /&gt;melakukan aktivitas secara 'normal',  menjadi sikap&lt;br /&gt;penerimaaan masyarakat terhadap seseorang yang&lt;br /&gt;mengalami kelainan atau kerusakan fungsi fisik atau&lt;br /&gt;mental (diskriminasi dan stigmasi). Atau yang sering&lt;br /&gt;disebut sebagai perubahan pendekatan dari yang&lt;br /&gt;bersifat medis kepada pendekatan sosial, dari&lt;br /&gt;penanganan masalah individual kepada penanganan yang&lt;br /&gt;bersifat struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lebih dari duawarsa pula, masalah penyandang&lt;br /&gt;cacat juga menjadi issu international  penting yang&lt;br /&gt;menjadi perhatian masyarakat dunia. Hal ini dapat&lt;br /&gt;dilihat dari berbagai mandat dan instrument&lt;br /&gt;internasional yang dikeluarkan oleh Perserikatan&lt;br /&gt;Bangsa-Bangsa (PBB) dan badan internasional lainnya&lt;br /&gt;yang menyebut dimensi kecacatan. Keprihatinan atas&lt;br /&gt;kondisi kehidupan para penyandang cacat di berbagai&lt;br /&gt;belahan dunia yang jauh tertinggal dalam berbagai&lt;br /&gt;aspek kehidupan, mendorong timbulnya komitment&lt;br /&gt;internasional untuk memberi perhatian bagi kelompok&lt;br /&gt;masyarakat yang terpinggirkan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1981, ditetapkan oleh  PBB sebagai Tahun&lt;br /&gt;Internasional Penyandang Cacat. Hal ini dimaksudkan&lt;br /&gt;agar masyarakat dunia di tahun tersebut mulai&lt;br /&gt;memberikan perhatian bagi perbaikan kualitas hidup&lt;br /&gt;penyandang cacat yang didasarkan  pada prinsip&lt;br /&gt;persamaan kesempatan dan partisipasi penuh dalam&lt;br /&gt;berbagai aspek kehidupan. Untuk mempertegas komitment &lt;br /&gt;tersebut, setahun kemudian, yaitu tahun 1982 PBB dalam&lt;br /&gt;sidang Majelis Umum mengeluarkan Resolusi No. 37/52&lt;br /&gt;tentang Program Aksi Dunia bagi Penyandang Cacat.&lt;br /&gt;Resolusi ini berisi pedoman bagi para pemerintahan&lt;br /&gt;untuk membuat kebijakan , rencana dan monitoring&lt;br /&gt;program-program bagi perbaikan kualitas hidup&lt;br /&gt;penyandang cacat. Dan untuk melaksanakan resolusi ini,&lt;br /&gt;PBB menetapkan tahun 1983 - 1992 sebagai Dasawarsa&lt;br /&gt;Internasional Penyandang Cacat. Diharapkan dalam kurun&lt;br /&gt;waktu itu terjadi perbaikan kehiupan penyandang cacat.&lt;br /&gt; Diakhir Dasawarsa Internasional di tahun 1993, PBB&lt;br /&gt;mengeluarkan Peraturan Standarisasi  bagi Persamaan&lt;br /&gt;Kesempatan Penyandang Cacat dalam berbagai aspek.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepuluh tahun kemudian, semakin banyak negara yang&lt;br /&gt;memberi perhatian pada program-program kecacatan,&lt;br /&gt;namun perbaikan  kehidupan penyandang cacat yang nyata&lt;br /&gt;terjadi begitu lambat, hal ini terutama terjadi di&lt;br /&gt;kawasan Asia dan Pasifik. Untuk itu, Komisi PBB di&lt;br /&gt;bidang Ekonomi dan Sosial untuk Asia dan Pasifik&lt;br /&gt;(UN-ESCAP) memandang perlu memperpanjang Dasawarsa&lt;br /&gt;Internasional Penyandang Cacat  untuk Asia dan Pasifik&lt;br /&gt;satu dasawarsa lagi. Selain itu, ESCAP juga&lt;br /&gt;mengeluarkan pedoman yang berisi 12 bidang utama yang&lt;br /&gt;menjadi keprihatinan untuk dilaksanakan selama kurun&lt;br /&gt;waktu 1993-2002. Hasilnya, satu dasawarsa&lt;br /&gt;internasional dan satu dasawarsa Asia dan Pasifik&lt;br /&gt;memang membawa perubahan pada kepedulian terhadap&lt;br /&gt;penyandang cacat di berbagai belahan dunia, hal ini&lt;br /&gt;terutama di bidang peraturan perundang-undangan, yaitu&lt;br /&gt;dapat dilihat dari semakin banyaknya pemerintahan yang&lt;br /&gt;memiliki undang-undang penyandang cacat dan berbagai&lt;br /&gt;peraturan yang didasarkan pada prinsip persamaan&lt;br /&gt;kesempatan dan partisipasi penyandang cacat dalam&lt;br /&gt;berbagai aspek kehidupan.  Bahkan, di beberapa negara&lt;br /&gt;juga dibentuk komisi pemantau pelaksanaan&lt;br /&gt;undang-undang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat diartikan juga sebagai suatu  pengakuan&lt;br /&gt;perlunya kerangka hukum dalam mengatasi masalah&lt;br /&gt;penyandang cacat. Namun begitu, dalam kenyataan ,&lt;br /&gt;tidak  terjadi  berubahan yang signifikan pada&lt;br /&gt;perbaikan kualitas kehidupan para penyandang cacat.&lt;br /&gt;Mereka tetap tersisih dari berbagai kemajuan, tetap&lt;br /&gt;mengalami berbagai hambatan dalam mengakses pelayanan&lt;br /&gt;dan fasilitas sosial pokok, seperti pendidikan,&lt;br /&gt;kesehatan, lapangan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pertanyaan yang menggelitik bagi saya,  mengapa&lt;br /&gt;implementasi program-program penyandang cacat yang&lt;br /&gt;sudah menjadi agenda internasional ini tidak membawa&lt;br /&gt;perubahan yang signifikan bagi penyandang cacat,&lt;br /&gt;terutama di kawasan Asia dan Pasifik dibanding dengan&lt;br /&gt;apa yang terjadi di negara-negara barat seperti&lt;br /&gt;Amerika dan Eropa?. Padahal hampir semua negara di&lt;br /&gt;kawasan ini sudah memiliki undang-undang penyandang&lt;br /&gt;cacat dan peraturan pelaksananya, namun sepertinya&lt;br /&gt;perundang-undangan  beserta peraturan pelaksana yang&lt;br /&gt;telah dibuat itu tidak lebih sebagai  retorika belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kita sering mendengar dan mungkin juga melihat dan&lt;br /&gt;mengalami bagaimana negara-negara barat mengakomodasi&lt;br /&gt;kebutuhan penyandang cacat, seperti penyediaan&lt;br /&gt;aksesibilitas fisik semacam ramp pada fasilitas&lt;br /&gt;publik, transportasi maupun bangunan.  Juga membuka&lt;br /&gt;akses di bidang  ketenagakerjaan , pendidikan dan&lt;br /&gt;berbagai aspek lainnya bagi warga yang menyandang&lt;br /&gt;cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki hal ini.&lt;br /&gt;Haruskah kita melakukan demonstrasi di jalan maupun&lt;br /&gt;parlemen untuk menuntut pelaksanaan persamaan hak yang&lt;br /&gt;telah diundangkan bilamana pemerintah tidak&lt;br /&gt;menyediakan fasilitas pelayanan sebagaimana yang&lt;br /&gt;diamanatkan undang-undang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjawab tantangan ini, saya melihat beberapa&lt;br /&gt;hal yang harus kita cermati , yaitu: 1. Karekteristik&lt;br /&gt;Penyandang Cacat di Asia. 2. Aspek budaya masyarakat&lt;br /&gt;Asia dan penerimaan mereka terhadap kecacatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karekteristik Penyandang Cacat Asia&lt;br /&gt;Populasi Penyandang cacat Asia adalah 2/3 dari&lt;br /&gt;penyandang cacat dunia. Mereka tersebar di lebih 36&lt;br /&gt;negara yang disebut Asia, yang umumnya adalah&lt;br /&gt;negara-negara dengan ekonomi yang sedang berkembang.&lt;br /&gt;Menurut laporan ESCAP, penyandang cacat di kawasan ini&lt;br /&gt;umumnya hidup dalam keadaan paling miskin dan hidup di&lt;br /&gt;lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan di&lt;br /&gt;banding dengan warga masyarakat lainnya. Hal ini dapat&lt;br /&gt;dipahami karena sebagian besar masyarakat Asia&lt;br /&gt;bermukim di wilayah pedesaan dan miskin. Masyarakat&lt;br /&gt;pedesaan jarang tersentuh pelayanan modern . Pelayanan&lt;br /&gt;rehabilitasi modern bagi penyandang cacat di banyak&lt;br /&gt;negara Asia, baru dimulai setelah perang dunia II. Itu&lt;br /&gt;pun khusus ditujukan bagi korban perang. Umumnya&lt;br /&gt;pusat-pusat rehabilitasi berada di perkotaan atau&lt;br /&gt;pinggiran kota. Dengan gambaran kondisi penyandang&lt;br /&gt;cacat dan sejarah pelayanan yang demikian, dapat&lt;br /&gt;dibayangkan banyak penyandang cacat yang tidak&lt;br /&gt;tersentuh pelayanan rehabilitasi, juga dapat&lt;br /&gt;dipastikan mereka tidak pernah berpikir tentang&lt;br /&gt;persamaan kesempatan dan partisipasi dalam berbagai&lt;br /&gt;aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Budaya dan Sikap Penerimaan Masyarakat Asia&lt;br /&gt;terhadap Penyandang Cacat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan penyandang cacat di kalangan masyarakat&lt;br /&gt;Asia, sudah ada sepanjang sejarah bangsa -bangsa  di&lt;br /&gt;Asia. Seperti komunitas lainnya, bangsa Asia juga&lt;br /&gt;memiliki cara pandang dan dan sikap terhadap&lt;br /&gt;penyandang cacat yang merupakan refleksi dari budaya&lt;br /&gt;mereka. Pemahaman konsep  persamaan kesempatan dan&lt;br /&gt;partisipasi penyandang cacat dalam perspektif budaya&lt;br /&gt;Barat barangkali bisa berbeda dengan perspektif budaya&lt;br /&gt; masyarakat Asia.&lt;br /&gt; Kita tidak dapat pungkiri bahwa dalam komunitas&lt;br /&gt;internasional, peran budaya Barat begitu dominan. Maka&lt;br /&gt;tidak mengherankan bila dokumen/instrumen&lt;br /&gt;internasional yang dikeluarkan juga kental  nuansa&lt;br /&gt;cara pandang budaya Barat. Akibatnya, ketika instrumen&lt;br /&gt;tersebut diterapkan dalam perspektif budaya yang&lt;br /&gt;berbeda menjadi tidak matching .&lt;br /&gt;Misalnya, dalam masyarakat Barat, seseorang&lt;br /&gt;digambarkan bebas dari konteks atau idependent.&lt;br /&gt;Konteks di sini dimaksudkan adalah kondisi sosial dan&lt;br /&gt;budaya di sekitarnya yang mempengaruhi kehidupan&lt;br /&gt;seseorang, kelompoknya atau komunitas masyarakat&lt;br /&gt;secara keseluruhan. Dalam budaya Barat, sesorang&lt;br /&gt;dianggap memiliki otonomi atas dirinya, yang memiliki&lt;br /&gt;kontrol atas dirinya sendiri dan pilihannya.  Perilaku&lt;br /&gt;diinterpretasikan melalui pemikiran atau perasaan dan&lt;br /&gt;tindakan individual daripada keelompok. Misalnya&lt;br /&gt;penganutan pada nilai-nilai kemandirian,&lt;br /&gt;keterusterangan dan atribut-atribut yang bersifat&lt;br /&gt;personnal. Mereka juga meyakini bahwa hanya&lt;br /&gt;orang-orang yang memiliki kemampuan fisik dan mental&lt;br /&gt;yang dapat berpartisipasi dan persamaan di dalam arus&lt;br /&gt;kehidupan sehingga design pengorganisasian masyarakat&lt;br /&gt;dan lingkungan adalah refleksi dari pemahaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sebaliknya pada budaya Asia, pada masyarakat&lt;br /&gt;Asia sesorang dinilai atau terkait dengan konteks atau&lt;br /&gt;lebih pada lingkungannya. Misalnya, penganutan pada&lt;br /&gt;nilai-nilai kekeluargaan, tanggungjawab kelompok atau&lt;br /&gt;keluarga, penjenjangan dalam memikul tanggung jawab&lt;br /&gt;(biasanya tertuju pada anggota yang tertua/senior),&lt;br /&gt;penghormatan pada senioritas dan menjaga perasaan&lt;br /&gt;orang lain serta kesetiaan pada kelompok. Nilai-nilai&lt;br /&gt;untuk menentukan sendiri keputusan tidak begitu&lt;br /&gt;dikenal pada masyarakat ini. Kepentingan individu&lt;br /&gt;menjadi nomor dua setelah kepentingan kelompok.&lt;br /&gt;Seseorang bisa jadi memendam keinginannya untuk &lt;br /&gt;menghindari konflik dan menjaga keselarasan kelompok&lt;br /&gt;ketimbang mendapat tekanan daripada kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai refleksi dari budaya yang demikian, seorang&lt;br /&gt;penyandang cacat Asia bisa jadi tersosialisasi bahwa&lt;br /&gt;kelompok (keluarga) akan memenuhi segala kebutuhannya,&lt;br /&gt;karena mereka berkewajiban memelihara anggotanya. Hal&lt;br /&gt;ini mungkin menyebabkan kurangnya kesadaran individual&lt;br /&gt;pada kewajiban non-personnal kelompok di dalam&lt;br /&gt;masyarakat. Dikalangan masyarakat Asia, seseorang&lt;br /&gt;sejak masa kanak-kanak sudah tersosialisasi untuk&lt;br /&gt;'menerima' apa yang disediakan tanpa mengeluh dan ini&lt;br /&gt;juga mungkin yang menyebabkan seorang penyandang cacat&lt;br /&gt;di kebanyakan negara  Asia enggan mengungkapkan&lt;br /&gt;keinginannya atau tidak berani mengungkapkan&lt;br /&gt;kebutuhannya secara terus terang untuk menghindari&lt;br /&gt;konflik atau tekanan dari  warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman ajaran agama dan nilai-nilai kepercayaan di&lt;br /&gt;kalangan masyarakat Asia juga memegang peranan penting&lt;br /&gt;dalam perbaikan kualitas hidup penyandang cacat.&lt;br /&gt;Setiap agama dan kepercayaan memiliki ajaran yang&lt;br /&gt;menggambarkan sikap terhadap penyandang cacat dan&lt;br /&gt;sepintas terkesan seperti bersifat 'mendua', pada satu&lt;br /&gt;sisi melukiskan kepasrahan total pada keadaan dan pada&lt;br /&gt;sisi lain menggambarkan semangat atau memberikan&lt;br /&gt;motivasi, sayangnya sikap yang pertamalah yang lebih&lt;br /&gt;menonjol, karena pentafsiran yang sempit dari ajaran&lt;br /&gt;tersebut. Misalnya, dikalangan ummat Islam (salah satu&lt;br /&gt;agama yang paling banyak dianut di Asia) dipercayai&lt;br /&gt;adanya takdir. Sesungguhnya takdir bisa&lt;br /&gt;diinterpretasikan sebagai sesuatu yang bersifat baik&lt;br /&gt;dan buruk, sesuatu yang bisa diubah. Tetapi kebanyakan&lt;br /&gt;muslim terbiasa diajarkan untuk menerima kondisi&lt;br /&gt;kehidupannya sebagai suatu takdir yang tidak bisa&lt;br /&gt;berubah. Misalnya, seorang keluarga yang memiliki anak&lt;br /&gt;cacat, pasrah dengan keadaan tersebut tanpa berusaha&lt;br /&gt;untuk  melakukan intervensi dini terhadap kecacatan&lt;br /&gt;itu.  Padahal, kalau intervensi dini dilakukan&lt;br /&gt;permasalahan kecacatannya dapat diminimalisasi dan&lt;br /&gt;anak dapat disiapkan untuk  menyesuaikan kecacatannya&lt;br /&gt;dengan kehidupan yang akan dijalani selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang salah atau pentafsiran yang sempit&lt;br /&gt;terhadap ajaran agama lainnya , misalnya,  umumnya&lt;br /&gt;agama mengajarkan pengikutnya untuk bersabar dalam&lt;br /&gt;penderitaan karena surga adalah balasannya.&lt;br /&gt;Hal ini dipahami bahwa memiliki kecacatan atau anggota&lt;br /&gt;keluarga penyandang cacat sebagai suatu ujian untuk&lt;br /&gt;tahan menderita, tidak mengeluh dan menerima kondisi&lt;br /&gt;tersebut apa adanya tanpa berusaha untuk melakukan&lt;br /&gt;perubahan apapun , misalnya melalui upaya rehabilitasi&lt;br /&gt;. Kepercayaan masyarakat setempat terhadap kecacatan&lt;br /&gt;juga mempengaruhi sikap terhadap penyandang cacat,&lt;br /&gt;misalnya, kecacatan masih dianggap sebagai sesuatu aib&lt;br /&gt;dan memalukan, sehingga anggota penyandang cacat harus&lt;br /&gt;disembunyikan dari penglihatan warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak negara yang ekonominya maju, terdapat&lt;br /&gt;kewajiban pemerintah untuk memberikan jaminan dan&lt;br /&gt;asuransi sosial (social security dan social insurance)&lt;br /&gt;bagi warga negaranya, terutama kaum penyandang cacat ,&lt;br /&gt;lanjut usia dan miskin. Di kebanyakan negara Asia, hal&lt;br /&gt;semacam ini belum tersentuh dan masih bergantung pada&lt;br /&gt;upaya yang bersifat belas kasihan dari warga lainnya,&lt;br /&gt;terutama dari orgabisasi sosial dan keagamaan. Dan&lt;br /&gt;sayangnya, ini pun belum terorganisir dengan baik,&lt;br /&gt;baik dalam pemungutannya maupun penyalurannya.&lt;br /&gt;Misalnya, dalam agama Islam ada kewajiban pengikutnya&lt;br /&gt;untuk membayar zakat. Dengan berzakat diajarkan bahwa&lt;br /&gt;harta yang kini miliki adalah juga kepunyaan Allah,&lt;br /&gt;dan setiap muslim wajib berbagi kepemilikannya itu&lt;br /&gt;kepada kaum yang memerlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang dan sikap terhadap penyandang cacat&lt;br /&gt;seperti yang disebutkan di atas juga  berpengaruh&lt;br /&gt;terhadap terhadap sikap atau perlakuan yang dianggap&lt;br /&gt;"baik" atau" buruk" bagi penyandang cacat dalam suatu&lt;br /&gt;komunitas masyarakat. Bisa jadi apa yang dianggap&lt;br /&gt;"baik" dari sudut pandang masyarakat  berbudaya Asia ,&lt;br /&gt;bagi orang Barat "tidak baik" . Akan tetapi hal ini&lt;br /&gt;tidak berarti bahwa persamaan persepsi dalam memandang&lt;br /&gt;kecacatan  tidak dapat dilakukan. Pada dasarnya budaya&lt;br /&gt;adalah suatu interaksi yang dinamis dari berbagai&lt;br /&gt;faktor. Untuk mencapai suatu masyarakat yang dapat&lt;br /&gt;mengakomodasikan kebutuhan penyandang cacat yang&lt;br /&gt;didasarkan pada prinsip persamaan dan partisipasi ,&lt;br /&gt;perbedaan-perbedaan ini perlu diperhatikan dalam&lt;br /&gt;implementasi program yang bersifat internasional di&lt;br /&gt;negara-negara yang berlatar belakang budaya non-Barat.&lt;br /&gt;Untuk itu, penyampaian informasi yang benar tentang&lt;br /&gt;kecacatan perlu ditujukan pada semua tingkatan&lt;br /&gt;masyarakat baik individual maupun kelompok dengan&lt;br /&gt;memanfaatkan semua potensi yang ada di kalangan&lt;br /&gt;masyarakat itu sendiri. misalnya, melalui  si&lt;br /&gt;penyandang cacat, keluarga, pemuka keagamaan, pemuka&lt;br /&gt;masyarakat formal, para profesional. Organisasi&lt;br /&gt;Penyandang Cacat barangkali bisa memprakasai pelatihan&lt;br /&gt;sensitivitas budaya pada setiap pelatihan kecacatan&lt;br /&gt;dan program-program yang dilakukan pemerintah&lt;br /&gt;hendaknya juga program kecacatan yang peka terhadap&lt;br /&gt;budaya lokal (cultural sensitivity programs). Dengan&lt;br /&gt;cara itu akan timbul persamaan persepsi dan sikap yang&lt;br /&gt;mendukung ke arah perbaikan kualitas hidup penyandang&lt;br /&gt;cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah penguatan&lt;br /&gt;organisasi mandiri penyandang cacat (self-help group)&lt;br /&gt;pada tingkat akar rumput dan mereka yang bermukim di&lt;br /&gt;daerah pedesaan dan terpencil. Harus diakui, kita&lt;br /&gt;selalu terfokus pada organisasi kecacatan pada tingkat&lt;br /&gt;nasional, dan melupakan mereka yang berada pada&lt;br /&gt;tingkat akar rumput. Padahal, pemberdayaan penyandang&lt;br /&gt;cacat yang paling efektif dimulai dari organisasi&lt;br /&gt;self-help group pada tingkat akar rumput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :Dra. Eva Rahmi Kasim,MDS &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(Disarikan dari makalah  yang disampaikan pada&lt;br /&gt;Konggress Dunia ke-6 &lt;br /&gt;Organisasi Penyandang Cacat Dunia (DPI) di&lt;br /&gt;Saporo,Jepang ,Oktober 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-110258203705812842?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/110258203705812842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=110258203705812842' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110258203705812842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110258203705812842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2004/12/masalah-penyandang-cacat-dan-aspek.html' title='MASALAH PENYANDANG CACAT DAN ASPEK BUDAYA'/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9505436.post-110249563653855338</id><published>2004-12-08T01:46:00.000-08:00</published><updated>2004-12-08T01:17:18.566-08:00</updated><title type='text'>TINJAU KEMBALI REHABILITASI PENYANDANG CACAT</title><content type='html'>Bulan Juni lalu di Oslo ibukota Norwegia, berlangsung&lt;br /&gt;Kongres Dunia Rehabilitasi Internasional yang ke-20.&lt;br /&gt;Kongress yang diikuti oleh lebih dari seribu orang&lt;br /&gt;peserta dari 76 negara di seluruh dunia membahas&lt;br /&gt;pelaksanaan rehabilitasi penyandang cacat dengan fokus&lt;br /&gt;pada 3 perspektif, dalam proses rehabilitasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana musim panas (summer) ketika itu tidak begitu&lt;br /&gt;terasa , karena hampir setiap hari hujan turun dengan&lt;br /&gt;suhu berkisar 9 hingga 18 derajat celcius. "Kami biasa&lt;br /&gt;menghadapi musim seperti ini dan kami menyebutnya&lt;br /&gt;'Green Winter'", kata seorang peserta tuan rumah.&lt;br /&gt;Cukup dingin memang, khususnya bagi pendatang yang&lt;br /&gt;berasal dari daerah tropis. Tetapi dinginnya cuaca&lt;br /&gt;tidak mengurangi semangat dan antusiasme peserta untuk&lt;br /&gt;mengikuti konggress dunia organisasi Rehabilitation&lt;br /&gt;International yang digelar setiap empat tahun sekali&lt;br /&gt;yang pada tahun ini merupakan konggress dunia ke-20&lt;br /&gt;sejak organisasi ini berdiri tahun 1922. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan tersebut dibahas antara lain upaya&lt;br /&gt;peningkatan kualitas hidup penyandang cacat dalam&lt;br /&gt;berbagai aspek kehidupan ditinjau dari 3 pilar utama&lt;br /&gt;dalam proses rehabilitasi, yaitu perspektif user&lt;br /&gt;(penyandang cacat), perspektif hak asasi manusia/&lt;br /&gt;warga serta perspektif multikultural. Dari pertemuan&lt;br /&gt;yang berlangsung selama hampir lima hari tersebut,&lt;br /&gt;dapat disimpulkan adanya pengakuan terjadinya&lt;br /&gt;kesenjangan dalam proses rehabilitasi penyandang cacat&lt;br /&gt;selama ini dan peningkatan kesadaran akan pentingnya&lt;br /&gt;partisipasi dan pelibatan penyandang cacat serta&lt;br /&gt;pengaruh mereka dalam proses rehabilitasi. Selain itu&lt;br /&gt;juga pentingnya perhatian terhadap hak-hak asasi&lt;br /&gt;penyandang cacat sebagai manusia dan sebagai warga&lt;br /&gt;negara yang mengakselerasi sistem rehabilitasi di&lt;br /&gt;seluruh dunia. Ditambahkan pula , meskipun penanganan&lt;br /&gt;masalah rehabilitasi penyandang cacat sudah&lt;br /&gt;mengglobal, namun tidak mudah untuk membuat kebijakan&lt;br /&gt;dan melaksanakannya di tingkat lokal, karena&lt;br /&gt;masyarakat berbeda satu tempat dengan tempat lainnya .&lt;br /&gt;Oleh sebab itu diperlukan perumusan kebijakan dan&lt;br /&gt;praktek untuk mengatasi masalah tersebut berdasarkan&lt;br /&gt;pendekatan multikultural. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konggress dibuka secara resmi oleh Menteri Sosial dan&lt;br /&gt;Tenaga Kerja Norwegia, Dagfinn Hoybraten yang&lt;br /&gt;menduduki jabatan tersebut 3 hari sebelum konggress&lt;br /&gt;berlangsung (sebelumnya ia menduduki posisi Menteri&lt;br /&gt;Kesehatan). Dalam sambutannya, Dagfinn mengungkapkan&lt;br /&gt;bahwa pelaksanaan rehabilitasi selama ini ini sering&lt;br /&gt;digambarkan sebagai bentuk dominannya para profesional&lt;br /&gt;serta pengeekslusifan dan tersegregasinya (di&lt;br /&gt;pusat-pusat rehabilitasi) penyandang cacat dari&lt;br /&gt;mainstream masyarakat. Pemahaman rehabilitasi yang&lt;br /&gt;dianggap sebagai upaya pemulihan fungsi fisik atau&lt;br /&gt;mental sebagai akibat kerusakan atau kehilangan fungsi&lt;br /&gt;yang disebabkan oleh sakit (penyakit), rehabilitasi&lt;br /&gt;dilaksanakan agar dapat melakuan aktivitas sebagaimana&lt;br /&gt;yang "normal" dengan memperbaiki kerusakan atau&lt;br /&gt;kehilangan fungsi tersebut, untuk saat ini pemahaman&lt;br /&gt;itu tidak dapat menjawab persoalan penyandang cacat.&lt;br /&gt;"Masalahnya, bukan kerusakan atau kehilangan fungsi&lt;br /&gt;tubuh atau mental yang menghalangi penyandang cacat&lt;br /&gt;untuk berpartisipasi, tetapi cara pengorganisasian&lt;br /&gt;masyarakat ", &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1999, Norwegia, melalui White Paper on&lt;br /&gt;Rehabilitation menyatakan rehabilitasi sebagai suatu&lt;br /&gt;proses yang direncanakan dengan sebaik-baiknya tujuan&lt;br /&gt;serta perangkatnya dengan beberapa unsur pekerja&lt;br /&gt;(profesional) untuk membantu usaha yang dilakukan&lt;br /&gt;penyandang cacat untuk mencapai kemungkinan yang&lt;br /&gt;sebaik-baiknya dalam melakuan fungsi dan mengatasi&lt;br /&gt;persoalannya, serta kemandirian dan berpartisipasi&lt;br /&gt;secara sosial dan di masyarakat. Diungkapkannya,&lt;br /&gt;negaranya saat ini tengah berupaya memperjuangkan&lt;br /&gt;suatu masyarakat yang inklusif. Dicontohkannya&lt;br /&gt;beberapa upaya yang dilakukan di negara Skandinavia&lt;br /&gt;tersebut, antara lain dengan mencipatakan aksess yang&lt;br /&gt;lebih baik bagi penyandang cacat, termasuk dalam&lt;br /&gt;mendapatkan alat bantu (assistive devices) dan dalam&lt;br /&gt;lapangan pekerjaan, juga dalam memajukan pendidikan&lt;br /&gt;terpadu bagi anak-anak yang menyandang cacat. Ia juga&lt;br /&gt;menyatakan bahwa negaranya termasuk dari beberapa&lt;br /&gt;negara yang aktif dalam menegakan hak-hak asasi&lt;br /&gt;manusia di seluruh dunia melalui team kerjasama&lt;br /&gt;internasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rethinking Rehabilitation&lt;br /&gt;Konsep dan pelaksanaan rehabilitasi penyandang cacat&lt;br /&gt;merupakan salah satu pokok bahasan penting pada&lt;br /&gt;konggres yang bertemakan Rethinking Rehabilitation&lt;br /&gt;tersebut. Di banyak negara, konsep dan pelaksanaan&lt;br /&gt;rehabilitasi penyandang cacat berakar dari suatu&lt;br /&gt;pendekatan medis dan individual. Menurut pendekatan&lt;br /&gt;ini,keberfungsian secara fisik dan mental seseorang&lt;br /&gt;merupakan prasyarat baginya untuk dapat menentukan&lt;br /&gt;kehendaknya dan berpartisipasi dalam berbagai&lt;br /&gt;aktivitas, karenanya upaya perbaikan fungsi fisik dan&lt;br /&gt;mental tersebut menjadi fokus dalam proses&lt;br /&gt;rehabilitasi. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.&lt;br /&gt;Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa berbagai bentuk&lt;br /&gt;terapi tidaklah penting, namun cara ini juga&lt;br /&gt;direfleksikan dalam kehidupan sosial yang menyebabkan&lt;br /&gt;terhambatnya para penyandang cacat mendapatkan&lt;br /&gt;kesempatan berpartisipasi secara sama dalam berbagai&lt;br /&gt;aktivitas dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, ketika&lt;br /&gt;seorang pemakai kursi roda tidak bisa menaiki bus, hal&lt;br /&gt;ini bukan disebabkan oleh karena kakinya yang tidak&lt;br /&gt;berfungsi sehingga harus menggunakan kursi roda&lt;br /&gt;tersebut, tetapi buslah yang tidak aksessible. Dengan&lt;br /&gt;kata lain, rehabilitasi tidak cuma untuk memperbaiki&lt;br /&gt;kerusakan atau ketidaknormalan fungsi fisik atau&lt;br /&gt;mental seseorang, tetapi juga berkaitan dengan faktor&lt;br /&gt;di luar individu tersebut, seperti sikap masyarakat di&lt;br /&gt;sekitarnya dan kondisi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikan terhadap penanganan masalah penyandang cacat&lt;br /&gt;tersebut sesungguhnya sudah direspon Organisasi&lt;br /&gt;Kesehatan Sedunia (WHO) dan para profesional yang&lt;br /&gt;bekerja di bidang rehabilitasi. WHO, misalnya, sejak&lt;br /&gt;tahun 2001 sudah merevisi definisi penyandang cacat.&lt;br /&gt;(Perlu diketahui bahwa definisi WHO tentang penyandang&lt;br /&gt;cacat menjadi acuan banyak negara tentang penyandang&lt;br /&gt;cacat). Sebelum tahun tersebut, WHO mengeluarkan&lt;br /&gt;pedoman yang disebut International Classification of&lt;br /&gt;Impairment, Disability and Handicap. Ada 3 konsep yang&lt;br /&gt;dibedakan, yaitu: Impairment, adalah hilangnya atau&lt;br /&gt;ketidaknormalan struktur atau fungsi psikologis, fisik&lt;br /&gt;atau anatomi. Sedangkan disability mengacu kepada&lt;br /&gt;keterbatasan kemampuan untuk melakukan aktivitas&lt;br /&gt;secara "normal" yang disebabkan oleh impairment .&lt;br /&gt;Disability digambarkan sebagai gangguan fungsional&lt;br /&gt;yang dialami sesorang. Adapun handicap, merupakan&lt;br /&gt;ketidakberuntungan sesorang yang diakibatkan oleh&lt;br /&gt;impairment dan disability yang menyebabkan ia tidak&lt;br /&gt;dapat melakukan perannya secara sosial maupun ekonomi&lt;br /&gt;(tergantung pada konteks usia, kelamin, sosial dan&lt;br /&gt;budaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHO merevisi konsep ini dengan sebutan International&lt;br /&gt;Classification of Functioning Disability and Health&lt;br /&gt;(ICF). Pada konsep yang baru ini, imparment bukanlah&lt;br /&gt;satu-satunya faktor yang menjadi fokus dalam menilai&lt;br /&gt;keberfungsian kemampuan seseorang. Ada 2 komponen&lt;br /&gt;utama yang perlu dipelajari dalam memahami masalah&lt;br /&gt;penyandang cacat. Yaitu: Functioning (keberfungsian)&lt;br /&gt;dan Disability (ketidakmampuan). Bagian pertama&lt;br /&gt;meliputi keberfungsian badan/anatomi dan struktur&lt;br /&gt;serta aktivitas dan partisipasi. Sedangkan bagian&lt;br /&gt;kedua terdiri dari Faktor-faktor kontekstual, seperti&lt;br /&gt;faktor lingkungan dan faktor -faktor yang sifatnya&lt;br /&gt;peersonal. Menurut konsep ini, masalah penyandang&lt;br /&gt;cacat timbul sebagai interaksi dari berbagai&lt;br /&gt;komponen-komponen tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemahaman tersebut diyakini bahwa kegiatan&lt;br /&gt;rehabilitasi penyandang cacat seharunya tidak identik&lt;br /&gt;dengan institusionalised penyandang cacat . Bukan juga&lt;br /&gt;beberapa bentuk pelayanan khusus karena pelayanan&lt;br /&gt;khusus itu tidak dapat dikatakan sebagai rehabilitasi.&lt;br /&gt;Yang pasti, rehabilitasi adalah apapun yang dilakukan&lt;br /&gt;untuk membantu usaha penyandang cacat mencapai&lt;br /&gt;tujuannya menjadi anggota masyarakat yang berfungsi&lt;br /&gt;penuh dalam masyarakatnya, dan hal ini harus dilakukan&lt;br /&gt;secara menyeluruh dan terpadu.&lt;br /&gt;Tentang Organisasi Rehabilitasi Internasional&lt;br /&gt;Rehabilitation International adalah suatu organisasi&lt;br /&gt;federasi internasional yang merupakan jejaring dunia&lt;br /&gt;mencakup para penyandang cacat, pemberi&lt;br /&gt;pelayanan/profesional di bidang rehabilitasi serta&lt;br /&gt;organisasi pemerintahan dan badan-badan internasional&lt;br /&gt;yang bekerjasama untuk meningkatkan kualitas hidup&lt;br /&gt;penyandang cacat dan keluarganya menunju dunia yang&lt;br /&gt;bebas hambatan, tanpa diskriminasi berdasarkan hak-hak&lt;br /&gt;asasi melalui upaya pencegahan kecacatan, memajukan&lt;br /&gt;persamaan kesempatan dan partisipasi penyandang cacat&lt;br /&gt;di segala bidang. Organisasi yang berkedudukan di New&lt;br /&gt;York , Amerika Serikat , ini mempunyai anggota di&lt;br /&gt;lebih 80 negara di seluruh dunia. Organisasi ini&lt;br /&gt;memiliki para profesional di bidangnya yang&lt;br /&gt;dikelompokan dalam beberapa komisi, seperti Komisi&lt;br /&gt;Medis, Komisi Sosial, Komisi Pendidikan, Komisi&lt;br /&gt;Technologi dan Informasi serta Akssibilitas, Komisi&lt;br /&gt;Ketenaga Kerjaan serta Komisi Rekreasi dan Olah Raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merupakan salah satu anggota Rehabilitasi&lt;br /&gt;Internasional yang perwakilannya di Indonesia berada&lt;br /&gt;di bawah Yayasan Pemeliharaan Anak Cacat (YPAC). Untuk&lt;br /&gt;kawasan Asia dan Pasifik, peranan Indonesia termasuk&lt;br /&gt;anggota yang aktif. Di tahun 1995, National Secretary&lt;br /&gt;Rehabilitation International For Indonesia, menjadi&lt;br /&gt;penyelenggara konferensi organisasi ini untuk kawasan&lt;br /&gt;Asia dan Pasifik, yang dikenal dengan Asperari. Selain&lt;br /&gt;itu juga menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi&lt;br /&gt;Internasional tentang Tourism bagi penyandang cacat.&lt;br /&gt;Sejak tahun 1998 hingga 2004, National Secretary&lt;br /&gt;Rehabilitation International for Indonesia yang&lt;br /&gt;dijabat oleh Ibu Mieke Soegeng Soepari mendapat&lt;br /&gt;kepercayaan sebagai pengurus eksektif (Vice President)&lt;br /&gt;untuk wilayah Asia dan Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa aktivitas yang telah dilakukan organisasi&lt;br /&gt;Rehabilitasi Internasional antara lain, di tahun 1999&lt;br /&gt;mengusulkan kepada PBB tentang pentingnya Konvensi PBB&lt;br /&gt;tentang Hak-hak Penyandang Cacat. Saat ini Draft&lt;br /&gt;konvensi tersebut sedang dalam pembahasan akhir&lt;br /&gt;Panitia Ad Hoc PBB di mana RI (Rehabilitation&lt;br /&gt;International) adalah salah satu anggota panitia&lt;br /&gt;tersebut. RI bersama dengan UNICEF menyediakan&lt;br /&gt;dukungan sebagai focal point yang berkaitan dengan&lt;br /&gt;permasalahan anak-anak penyandang cacat. Selain itu&lt;br /&gt;menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan&lt;br /&gt;masalah penyandang cacat secara periodik dalam bentuk&lt;br /&gt;jurnal maupun melalui website. RI juga yang&lt;br /&gt;memprakasai simbol aksess internasional serta&lt;br /&gt;mendirikan berbagai lembaga di bidang rehabilitasi&lt;br /&gt;berbasiskanmasyarakat. &lt;br /&gt;(Eva Kasim, salah satu delegasi Indonesia yang&lt;br /&gt;mengikuti World Konggress of Rehabilitation di&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9505436-110249563653855338?l=evakasim.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://evakasim.blogspot.com/feeds/110249563653855338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9505436&amp;postID=110249563653855338' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110249563653855338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9505436/posts/default/110249563653855338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://evakasim.blogspot.com/2004/12/tinjau-kembali-rehabilitasi-penyandang.html' title='TINJAU KEMBALI REHABILITASI PENYANDANG CACAT'/><author><name>evakasim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05285702037595104099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
